Monday, January 24, 2005

Jakarta dan Duka

Jakarta menjadi sebuah pertanyaan
yang perlahan memisau jiwa
Jakarta menjadi sebuah kengerian
yang perlahan mengusik kepala

Siapakah yang sanggup menggugat
Siapakah yang berhak menuntut
atas keadaan yang kini bergantungan di atas tali jemuran seorang bandit

Terus terang,
Aku lebih menikmati jemuran pakaian dalam seorang pelacur
yang semalam baru saja menyeduh cinta bersamaku
Aku lebih menyukai harum sabun di atasnya
yang seakan telah menyeka habis sisa dosa yang kami reguk dengan penuh semangat

Ya,
Jakarta selalu membawa luka, duka
dan mungkin sedikit dosa......

Palmerah, 24 Januari 2005

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home