TERJEBAK

Cerita Pendek Nigar Pandrianto
Tiba-tiba saja lift yang mereka tumpangi terhenti, tepat diantara lantai dua puluh lima dan du puluh enam. Listrik mati. Lampu dalam lift meredup. Bob dan Susi panik. Bob mencoba menekan-nekan tombol lift, tetapi tidak ada reaksi, lift tetap saja tidak bergerak. Mereka terjebak!
“Matilah aku,” begitu pikir Bob.
Sesaat Bob dan Susi terdiam. Mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan. Baru kali ini mereka mengalami kemacetan lift seperti itu. Susi sendiri tidak pernah membayangkan dirinya bakal terjebak didalam lift.
“Mungkin ini saat kematianku,” begitu pikir Susi. Ia sering mendengar orang yang mati lemas kekurangan oksigen ketika lift yang ditumpangi macet. Ia juga pernah mendengar tentang tali lift yang tiba-tiba putus dan menewaskan siapa saja yang ada di dalamnya. Kini ia sendiri yang mengalaminya.
“Mungkin listrik mati. Tunggu saja sebentar,” Bob mencoba menenangkan. Susi tidak menanggapi. Ia masih diliputi kecemasan. Sesekali ia mencoba menekan-nekan tombol lift. Tetapi percuma saja, lift tidak juga mau bergerak.
Beberapa puluh menit berlalu. Tidak ada juga perubahan. Lampu lift bertenaga baterai meredup. Kepengapan mulai terasa. Keringat mulai menetes dari dahi Bob dan Susi. Diam-diam Bob menyimpan kecemasan juga. Ia khawatir malam itu telah terjadi huru-hara, dan gedung dimana lift itu berada tengah dibakar massa. Jika itu benar, tamat sudah riwayatnya! Bob sama sekali tidak pernah mengira kalau malam ini adalah malam terakhir baginya. Antara percaya dan tidak, saat ini ia ditengah berhadapan dengan maut.
Masih belum luntur dari ingatan Bob, beberapa waktu lalu kotanya dilanda kerusuhan yang akhirnya menghanguskan ratusan gedung perkantoran. Bob membayangkan, saat itu ratusan orang terjebak di dalam lift dan akhirnya mati terpanggang di dalamnya. Kini peristiwa yang sama justru menimpanya. Ketakutan-ketakutan mulai mengaliri darah Bob. Nyalinya menjadi kerdil, seperti mendapat tekanan yang tidak terkendalikan. Bob sendiri hampir tidak bisa menahannya.
Bob dan Susi terdiam, Mereka tidak mendengar suara apa-apa di luar. Yang terdengar hanya desah napas mereka berdua. Semua begitu cepat berlalu, seperti senja yang memburu malam. Masih belum lenyap dari ingatan keduanya, beberapa saat yang lalu mereka berbicara tentang cinta di sebuah pub. Tapi, sekarang semua tidak ada artinya, mereka tengah diburu kematian. Ya, cinta tinggal kata-kata.
“Kita akan mati di sini, Bob,” ujar Susi setengah berbisik menyentak lamunan Bob.
“Mungkin,” Bob berkata tanpa menoleh. Ia masih mencium atmosfer kemastian yang membayanginya. “Jangan terlalu cemas. Jika memang listrik mati, regu penolong akan segera menyelamatkan kita.”
Tiba-tiba ingatan Bob terlempar pada Deti, istrinya.Wanita yang manis dan cerdas. Bob mengakui, hanya Deti yang bisa memperlakukan dirinya sebagaimana mestinya. Hanya Deti yang sanggup memberinya cinta sejati. Namun, Bob sendiri tidak memahami mengapa kini ia tertarik pada Susi, seorang account executive suatu biro iklan ternama.
Bob juga mengakui, Susi cantik dan pandai bergaul. Mungkin itu yang membuat Bob selalu ingin menemui Susi. Seperti malam ini, ia masih menyempatkan diri untuk menikmati kecantikan Susi.
Masih jelas dalam ingatan Bob ketika untuk pertama kalinya ia bertemu Susi. Saat itu mereka duduk berhadapan di dalam kereta api kelas eksekutif. Bob menangkap bayangan wajah Susi yang terpantul di kaca jendela kereta. Ya, jendela kereta yang membingkai senja, yang jatuh di antara pegunungan. Bayangan Susi jelas di situ. Bahkan ketika hujan turun, pantulan wajah Susi tetap ada di situ. Bob pun memberanikan diri untuk berkenalan dengan Susi. Sejak itu hubungan mereka terus berlanjut. Mulanya hanya sesekali lewat telepon di saat senggang, tapi kemudian mereka memutuskan untuk bertemu langsung.
Kini Bob terjebak dalam lift bersama Susi. Bob berpikir, mungkin pada saat yang sama Deti tengah menantikan dirinya di rumah. Atau menelepon kesana kemari mencari-carinya. Ya, barangkali Deti telah kelelahan mencari Bob, dari satu sepi ke sepi lainnya, dari kesedihan yang satu kesedihan lain. Deti telah kelelahan menemukan kembali hati Bob.
“Aku telah mengkhianati Deti. Aku telah berdosa,” kata Bob tiba-tiba.
Susi agak terperanjat. Ia tidak menyangka kalau Bob mengatakan hal itu. Baru kali ini ia tahu kalau Bob masih mencintai istrinya. Selama ini Bob selalu mengatakan hanya Susilah satu-satunya wanita impiannya.
Susi ingin melampiaskan kekesalannya. Tetapi, di ambang kematian seperti saat ini, Susi tidak bisa berbuat lebih jauh. Ia hanya ingin lepas dari musibah kematian yang tengah berjingkat mendekatinya.
Diam-diam ingatan Susi memburu kepada Gun, suaminya yang ia nikahi tiga tahun lalu. Meski belakangan ini Susi selalu merasakan Gun tidak lagi menperhatikannya, Susi masih tetap mencintainya. Bagi Susi hanya Gun yang sanggup memberikan kehangatan cinta. Susi sendiri tidak mengerti, mengapa kemudian dirinya bisa menerima kehadiran Bob, seorang supervisor perusahaan otomotif besar. Padahal, ia tahu benar Bob telah beristri.
“Ya, aku pun telah berbuat tidak adil kepada Gun. Aku telah menyia-nyiakan kepercayaannya kepadaku,” ujar Susi kemudian. Bob nyaris tidak percaya kalau akhirnya Susi mengatakan hal itu. Seperti dirinya, selama ini Susi selalu berkata hanya Bob lelaki yang ia inginkan, hanya Bob lelaki yang ia dambakan. Tapi, kali ini Susi berkata lain. Ketika ajal terasa sudah selangkah didepan, semuanya jadi berbalik. “Maafkan aku, Gun,” desah Susi dalam hati.
“Jika kita mati sekarang kita akan meninggalkan kesalahan besar,” ujar Bob.
“Ya, kita telah melakukan kesalahan besar,” bisik Susi.
Udara di dalam lift semakin sesak. Keringat membasahi kemeja Bob. Lampu bertenaga baterai dalam lift sudah hampir mati. Waktu yang bergerak seperti mulai mencekik mereka perlahan-lahan. Bob dan Susi terduduk di lantai lift. Kini mereka seperti menghadapi tuduhan-tuduhan waktu. Keduanya sudah memastikan akan segera menghadapi maut.
Berkali-kali Susi menyesali dirinya kenapa harus menerima kehadiran Bob, Ia memaki dirinya sendiri karena telah menjadi seorang yang paling bodoh dengan menerima rayuan laki-laki itu. Susi telah bermain api!
“Aku memang perempuan murahan. Perempuan tidak setia, pengkhianat! Aku tidak mau mati meninggalkan dosa. Seandainya aku selamat, aku akan kembali kepadamu, Gun,” Susi membatin.
“Jika aku selamat, aku akan kembali kepada Gun,” kata Susi lirih.
“Kamu rela kalau aku kembali kepadanya, Bob?”
“Jika itu menurutmu hal yang terbaik, kau harus melakukannya,” jawaban Bob terdengar tanpa disangka-sangka oleh Susi. “Aku pun mungkin akan melakukan hal yang sama,” tambahnya.
“Maksudmu?”
“Jika malam ini kita selamat, aku akan kembali kepada Deti.”
Setelah itu keduanya terdiam kembali. Lampu dalam lift benar-benar mati. Sebelumnya Bob sempat melihat wajah pucat Susi dengan keringat mengalir di dahinya. Susi sudah lemas.
“Kita harus mengakhiri semua ini, Susi,” kata-kata Bob nyaris tidak terdengar.
“Ya,” jawaban Susi pendek saja.
“Kita harus memohon ampun kepada Tuhan karena telah mengkhianati perkawinan kita masing-masing.”
“Ya.”
“Jika kita mati setidaknya kita akan meninggalkan dosa ini.”
“Ya, Bob.”
Lift tidak juga menujukan tanda-tanda akan bergerak.
“Aku bersumpah akan bersungguh-sungguh mencintai Deti jika malam ini selamat,” gumam Bob.
Susi tidak jauh berbeda. “Aku bertobat. Jika malam ini aku lolos dari panggilan maut, aku akan kembali mencintai Gun sepenuh hati. Aku tidak akan menyia-nyiakan cinta Gun,” bisik Susi dalam hati, minta ampun kepada Tuhan atas segala kesalahanya.
“Ampuni dosaku, Tuhan, “ pinta Bob dalam hatinya.
Tiba-tiba lampu dalam lift terang kembali. Lift mulai terasa bergerak. Hembusan udara dingin dari AC kembali mengalir memenuhi ruangan yang semula pengap. Awalnya Bob dan Susi tidak percaya kalau lift itu bergerak. Tetapi, lift benar-benar bergerak ke bawah. Bob dan Susi yang tadinya sudah merasa di ambang kematian masih belum percaya ketika lift meluncur turun. Malah keduanya sempat berpikir itulah saat malaikat maut menjemput mereka!
Dalam beberapa saat saja lift sudah sampai di lantai paling bawah. Begitu pintu lift terbuka Bob dan Susi disambut beberapa orang di muka pintu lift. Mereka langsung menyerbu masuk ke dalam untuk memberi pertolongan. Rupanya sudah sejak tadi mereka menunggu lift itu turun. Mereka tahu, ada orang yang terjebak di dalam lift ketika listrik mati selama beberapa saat.
***
Sore itu Bob berada di dalam ruang kerjanya. Tiba-tiba telepon di mejanya berdering. Bob segera menyambar gagang telepon. Seperti sudah hafal dan tahu benar siapa yang tengah meneleponnya, Bob langsung menjawab, “Halo, sayang, dimana kita ketemu malam ini?”
“Di tempat biasa,” suara dari seberang sana terdengar. Suara merdu Susi!
“Baiklah, saya segera meluncur kesana.”
“Bagaimana dengan isterimu?”
“Deti? Nanti biar aku bilang kalau aku ada pertemuan dengan klien. Aku langsung menjemputmu, ya?”
Beberapa saat saja Bob dan Susi sudah berada di sebuah gedung. Tujuan mereka tak lain adalah pub yang biasa meniupkan musik jazz kegemaran mereka. Tetapi, baru beberapa lantai mereka lewati, tiba- tiba lift terhenti. Lampu dalam lift meredup. Di luar tidak terdengar apa- apa.
Semula Bob dan Susi tidak terlalui panik. Sebab mereka yakin, sesaat lagi lift akan bergerak kembali.Tapi saying, tiga jam kemudian lift tidak juga bergerak. Bob dan Susi semakin sulit bernafas.
“Tunggu saja, paling listrik mati, sebentar lagi pasti jalan,” ujar Bob tenang meski dadanya sudah semakin sesak. Tetapi, lama-kelamaan, kecemasan semakin gencar menyerang. Bob dan Susi tidak tahan lagi. Udara kematian mulai tercium. Saat itu juga isi kepala mereka teringat kepada pasangannya masing-masing. Bob teringat Deti. Sementara itu bayangan Gun menyeruak di kepala Susi.
“Jika malam ini aku selamat, aku akan benar-benar kembali kepada Deti. Tuhan selamatkan aku,” Begitu gemuruh hati Bob.
Demikian pula dengan Susi, “Biarkan kali ini aku selamat, Tuhan. Aku akan benar- benar kembali kepada Gun. Sungguh!” Susi berdoa, memohon dilepaskan dari ancaman maut. Tetapi lift tidak juga bergerak.

1 Comments:
wah kamu punya pengalaman terjebak di lift ya..koq bisa2nya dapat ide setting lift.. hmm boleh juga.. dah sangat manuasiawi euy...
Post a Comment
Subscribe to Post Comments [Atom]
<< Home