Catatan Perjalanan 55001

Dua hari lalu (20/01/06) saya secara sengaja memenuhi keinginan hati untuk berangkat menuju Yogyakarta. Lalu dengan serombongan kawan lain kami berangkat menuju kota yang memiliki banyak sejarah itu.
Perjalanan cukup menegangkan, pasalnya pengemudi mobil yang saya tumpangi kelewat percaya diri. Hasilnya, mobil tak pernah melesat di bawah 80 kilometer per jam. Tikungan tajam, aspal berlubang, dan jalanan gelap sepanjang jalur selatan disikat habis. Bus dan truk gandeng pun disalip dengan mudah. Saya rasa, pengemudi itu sudah hafal benar setiap jengkal jalan di jalur berliku dan berbahaya itu.
Angin di celana dalam
Kami tiba di Yogyakarta pukul 05.30. Artinya sebelas jam kami telah menempuh perjalanan. Tentu saja dengan beberapa kali istirahat, baik untuk mengisi perut dengan minuman dan makanan panas, atau sekadar buang air kecil.
Aktivitas yang terakhir ini bisa dilakukan di stasiun pengisian bensin umum, atau di semak belukar tepi jalan. Ah, mengasyikan rasanya mempertontonkan bagian rahasia kami kepada gelap, sementara angin malam menyelusup di sela celana dalam. Menyegarkan!
Untuk mempersingkat cerita, beberapa kegiatan yang tak begitu penting, tidak saya ceritakan di sini.
Berburu buku

Lalu pada pukul 14.30 kami sudah berada di Malioboro. Di jalan yang sangat terkenal ini, tampak lalu lintas yang sangat padat. Meski telah dibuat satu arah, toh kemacetan tetap saja terjadi.
Bau bacin di beberapa sudut jalan tetap tercium. Namun itu tetap saja tidak melunturkan minat saya untuk selalu mengunjungi kota ini.
Di Malioboro saya dan beberapa teman sengaja memisahkan diri. Tentu karena kami memiliki kepentingan yang berbeda-beda. Saya sendiri langsung berjalan kaki menuju shoping.
Shoping yang saya kenal adalah kawasan penjualan buku yang sangat terkenal. Bukan hanya karena potongan harga yang sangat besar (kira-kira 30%), tetapi juga di tempat inilah saya menemukan buku-buku berharga yang langka.
Di shoping saya berjalan menyusuri lantai satu, dan kemudian naik dan berjalan di sejumlah lorong di lantai dua. Di salah satu lorong inilah saya singgah di sebuah kios buku.
Buku langka
Satu hal yang membuat saya tertarik untuk singgah ialah, kios tersebut menjual sejumlah buku tua. Salah satu buku yang dipampang di situ adalah 200 TAHUN YOGYAKARTA. Buku yang terbit tahun 1956 ini berisi kisah mengenai Yogyakarta dan perkembangan di berbagai bidang yang telah dicapai oleh kota tersebut. Mengenai isi buku ini akan saya kisahkan pada kesempatan lain.

Buku lain yang menyedot minat saya adalah SEJARAH SASTERA MELAYU yang terbit di tahun 1951. Buku berisi sejarah dunia sastra Indonesia di masa lalu. Mengenai buku ini, akan kukisahkan juga pada kesempatan lain.
Setelah melakukan tawar-menawar saya putuskan untuk membawa pulang kedua buku tua tersebut. Sebelumnya, dengan kesopanan a la Yogyakarta, si penjual buku (yang belakangan kuketahui bernama Pak Totok) memesankan aku segelas kopi susu. Kami pun bicara soal buku tua sambil menghirupnya dan menikmati beberapa batang kretek.
Buku lain
Tak puas dengan yang sudah kudapat, kembali saya geledah lantai dua pusat penjualan buku yang terletak di belakang Pasar Beringharjo itu. Ah, sebuah kios menarik perhatian saya. Di situ di jual sejumlah buku lama karangan Emha Ainun Nadjib.

Dengan potongan harga 30%, kuambil DUA buah judul bukunya yang ada di kios itu. Buku tersebut adalah: INDONESIA ADALAH BAGIAN DARI DESA SAYA dan SESOBEK BUKU HARIAN INDONESIA. Satu buku lain yang saya beli adalah PODIUM karangan AS Laksana, kumpulan kolom AS Laksana di tabloid Detik.
Setelah kudapat semuanya, saya bergegas kembali ke tempat kami tadi berpisah. Pasalnya kami sudah sepakat untuk kembali di tempat yang sama, dua jam setelah kami berpisah di awal tadi.
Kelak aku akan kembali ke tempat ini. Pasti!
22/01/06


1 Comments:
i left my heart once in Yogyakarta. it makes me wanting to go back there again and again. longing to shatter my thirst. the exotism, warm hearts, kindness and the way of the people touch my inner heart. im thirsty of Yogyakarta... cant wait to mend the pieces of my heart...
Post a Comment
Subscribe to Post Comments [Atom]
<< Home