Wednesday, May 25, 2005

Perempuan dalam Lukisan



Cerpen Nigar Pandrianto

Untuk ke sekian kalinya Bram kembali mengajak Iren untuk mengunjungi galeri Chitra. Tetapi kali ini Iren terpaksa menolak keinginan sumianya itu. Bukan karena Iren mulai malas melihat-lihat lukisan di galeri, tetapi karena ia tahu Bram punya maksud khusus datang ke galeri tersebut.

Iren tahu, Bram datang ke galeri Chitra karena ingin melihat sebuah lukisan yang dipajang di salah satu sudut galeri tersebut. Lukisan tersebut bergambar seorang perempuan muda yang tengah duduk di atas kursi di sebuah beranda dengan latar belakang langit sore keemasan. Wajahnya sangat cantik. Tatapannya sangat tajam dan penuh arti. Begitu setidaknya kesan yang ditangkap oleh Iren.

“Sebentar saja, Ren. Paling-paling hanya tiga puluh menit. Setelah itu aku akan antar kamu ke toko buku atau tempat lain yang kamu suka,” rayu Bram kepada Iren.

“Tidak! Kamu pasti mau melihat lukisan perempuan itu lagi, kan?” Iren menebak-nebak.

“Bukan!”

“Ah, mengaku saja. Tidak usah ditutup-tutupi!”

“Sumpah, tidak! Aku hanya mau melihat jadwal pameran saja.”

“Kamu kan bisa menelepon tanpa harus susah-susah datang ke sana.”

“Maksudku agar bisa mendapat keterangan yang lebih jelas.”

“Huh, alasan saja!”

Iren sudah mencium, Bram punya kesan yang sangat mendalam terhadap lukisan itu. Pernah suatu kali ia memergoki Bram mengamati lukisan tersebut dengan sangat serius. Lama sekali ia menatap lukisan itu, seakan-akan jiwanya tersedot habis ke dalamnya.

Lukisan itu sungguh-sungguh punya daya tarik yang luar biasa bagi Bram. Sekali melihatnya, perempuan di dalam lukisan itu langsung terpahat di lorong ingatannya. Padahal selain lukisan tersebut masih banyak lukisan lain di galeri itu yang sebenarnya lebih menarik dan lebih menantang untuk diamati. Sebagai wartawan kebudayaan, Bram harusnya lebih peka soal itu.

Iren sendiri heran, mengapa setiap kali mengunjungi galeri itu Bram selalu menyediakan waktu khusus untuk berdiri di depan lukisan itu dan rela diam puluhan menit untuk mengamatinya. Iren tidak habis pikir, apa yang sebenarnya menarik dari lukisan itu sehingga Bram bisa terpaku dengan tenang di depannya dalam waktu yang terbilang lama.

“Apa sih bagusnya lukisan itu? Apa karena ada perempuan cantik di situ?” tanya Iren suatu kali dengan nada cemburu.

“Bukan saoal cantik atau tidak cantik, tetapi karena keseluruhan lukisan itu memang menarik,” Bram menjawab tenang.

“Huh, lukisan seperti itu saja dibilang menarik. Mahasiswa jurusan seni rupa semester tiga saja bisa membuat lukisan yang lebih bagus.”

“Tetapi ini berbeda, Ren. Sangat berbeda!”

“Apanya yang berbeda?”

“Ekspresi dan emosi pelukisnya sangat kuat.”

“Kamu melebih-lebihkan saja. Bilang saja kamu tertarik kepada perempuan di dalam lukisan itu.”

Sebenarnya di dalam hati Iren mengakui, apa yang dikatakan oleh suaminya itu memang benar. Ia pun memiliki kesan dan penilaian yang sama. Tetapi meskipun begitu, Iren tidak bisa menerima kalau Bram punya kekaguman yang berlebihan terhadap sosok perempuan di lukisan tersebut. Iren tidak bisa menerima kalau suaminya tiba-tiba menjadi sangat terpesona dengan keindahan perempuan itu.

Iren tahu juga, dirinya akan ditertawakan jika orang lain tahu bahwa ia menyimpan cemburu pada seorang permpuan di dalam sebuah lukisan. Bagaimana mungkin seseorang menaruh cemburu pada sosok yang tidak nyata, sosok hasil rekaan dan bentukan imajinasi orang lain? Ini tidak bisa diterima oleh akal. Tetapi Iren benar-benar tidak bisa membuang perasaan itu.

“O, kamu cemburu ya? Mengaku saja!” goda Bram kepada istrinya.

“Ngapain aku cemburu?” Iren berkata ketus.

“Lha itu buktinya, tiba-tiba jadi ngambek begitu?”

“Ah, kamu memang sok tahu!” Iren mencoba untuk tidak memperpanjang perdebatan.

Hingga kini Iren tidak pernah tahu pasti apa yang membuat Bram begitu terpikat dengan lukisan itu. Apakah karena lukisan itu sendiri, atau justru karena pelukisnya. Siapakah pelukisnya? Lelaki atau perempuan? Jika perempuan, apakah Bram mempunyai hubungan dengannya? Lalu, di mana ia berada sekarang? Pikiran-pikiran itu merayapi pikiran Iren.

Untuk mengetahuinya pernah diam-diam Iren menanyakan hal tersebut kepada pemilik galeri. Tetapi sayang, pemilik galeri tidak tahu persis siapa yang membuat lukisan tersebut. Ia hanya mengetahui kalau lukisan itu dibeli dari seorang kolektor tiga tahun yang lalu. Sayangnya hingga kini lukisan itu tidak pernah terjual.

“Siapa kolektor yang menjual lukisan ini?” tanya Iren kepada si pemilik galeri.

“Saya sendiri lupa. Soalnya udah lama sekali. Lagi pula waktu itu saya belum sepenuhnya mengurus galeri ini,” jawab pemilik galeri. Tidak lama kemudian ia masuk ke dalam setelah berjanji akan kembali untuk membawa catatan kolektor yang menjual lukisan ke galerinya.

Tidak lama kemudian ia keluar dengan sebuah buku catatatan. “Pemilik sebelumnya Yap Seng Hok. Menurut alamat yang ada di catatan ini, ia tinggal di Jalan Bendungan III, nomor 16. Saya tidak tahu apakah ia masih tinggal di sana atau sudah pindah,” katanya. “Coba saja temui dia di sana.”

Beberapa hari kemudian Iren mencoba mendatangi alamat tersebut. Alamat yang ditujunya ternyata sebuah rumah yang cukup besar. Di sana ia bertemu dengan Goat Hiong yang ternyata anak perempuan tunggal Yap Seng Hok. Dari perempuan itulah Iren tahu kalau ayahnya sudah setahun meninggal dunia.

Ketika Goat Hiong ditanya soal lukisan, ia tidak bisa memberikan banyak keterangan, sebab ia sendiri tidak terlalu banyak tahu soal lukisan yang dimiliki ayahnya. Ia hanya mengatahui sebelum meninggal ayahnya banyak menjual lukisan koleksinya. Ketika itu ayahnya memang butuh biaya untuk berobat di luar negeri. Ia pun tidak pernah tahu dengan jelas ke mana saja lukisan-lukisan itu dijual.

Sekarang di rumah itu hanya tinggal beberapa lukisan saja yang masih ada. Beberapa di antaranya merupakan karya peluksi terkenal. Goat Hiong dengan senang hati menunjukkan lukisan-lukisan tersebut kepada Iren. Dengan basa-basi Iren mencoba menawar salah satu lukisan yang ada di situ. Tetapi Goat Hiong tidak mau menjualnya.

Sejak itu pencarian Iren berhenti. Namun rasa keingintahuannya terus mendesak. Ada apa dengan lukisan di galeri itu? Siapa sebenarnya perempuan yang ada di dalamnya? Apakah Bram memiliki hubungan dengan perempuan itu? Semua pertanyaan itu berputar-putar di kepala Iren.

Suatu sore, setibanya di rumah sepulang kantor, Iren terkejut bukan main. Kepalanya terasa seperti dipukul. Hatinya bergetar. Kesal, cemburu, takut, marah bercampur dengan kengerian menjadi satu melesak ke dalam kepalanya.

Bagaimana tidak, lukisan perempuan yang beberapa waktu lalu masih berada di dinding galeri Chitra, saat itu sudah berpindah di ruang tamunya. Di saat yang sama ia melihat Bram tengah asyik memandangi lukisan itu dengan penuh ketakjuban.

Namun demikian Iren berusaha menyembunyikan kekacauan yang bergejolak di hatinya. Ia berusaha meredam kegeramannya. Ia berusaha agar tidak meledak saat itu.

“Akhirnya aku memutusakan untuk membeli lukisan itu, Ren,” kata Bram tenang ketika melihat Iren sudah berada di ruang tamu, “kubeli dengan harga murah.”

Iren tidak bisa berkata apa-apa. Lukisan yang selama ini menjadi sumber kegalauan hatinya kini sudah berada di rumahnya. Ia merasa ada ancaman yang langsung menyerang pusat pertahanan keluarganya. Hal ini jelas membuat hatin Iren semakin meradang. Ia tidak pernah berpikir kalau Bram akan memutuskan untuk membeli likisan itu.
Iren tidak tahu berapa banyak uang yang dikeluarkan Bram untuk membeli lukisan itu. Ratusan ribu, jutaan, atau puluhan juta rupiah, Iren tidak mau ambil peduli. Yang jelas, Iren tidak suka lukisan itu berada di rumahnya.

Sebentar Iren menyempatkan diri untuk memandang perempuan dalam lukisan yang kini sudah dianggapnya sebagai musuh utama. Mata perempuan itu seakan-akan sedang menatap Iren dengan wajah penuh kemenangan. Ia seolah-olah tengah mengejek Iren yang tidak bisa mencegah kehadirannya di rumah itu. Perempuan itu seperti mengatakan bahwa dirinya telah berhasil merebut Bram dari sisi Iren.
Iren benar-benar geram. Ingin rasanya ia menurunkan dan menyobek lukisan itu dengan pisau. Ia ingin sekali menghancurkan lukisan itu tanpa ampun. Bahkan jika mungkin ia ingin membakarnya menjadi abu. Tetapi Iren tidak bisa melakuannya.

Malamnya Iren terdiam. Ia enggan berbicara dengan Bram. Tetapi Bram justru tidak menangkap aksi protes yang sengaja dilancarkan Iren. Malahan, hingga dini hari Bram masih terdiam di ruang tamu mengagumi lukisan yang baru saja dibelinya itu.

Hari-hari berikutnya keadan makin menyebalkan buat Iren. Belakangan ia sering memergoki Bram meninggalkan tempat tidur di malam hari. Kemudian dengan langkah perlahan, seakan tidak mau terdengar oleh istrinya, Bram berjalan menuruni tangga menuju ruang tamu. Di sana Bram duduk di sofa sambil menikmati lukisan yang dibelinya.
Terang saja kejengkelan Iren makin menggunung. Dengan jengkel ia bertanya kepada Bram untuk apa ia meninggalkan kamar tidur di malam hari. Tetapi jawaban Bram sederhana saja, ia sering merasa kegerahan tidur di dalam kamar. Itu sebabnya ia sering mencoba tidur di sofa dengan harapan bisa lebih nyenyak dan nyaman beristirahat.
Iren jelas-jelas tidak bisa menerima alasan Bram tersebut. Baginya alasan Bram terlalu mengada-ada, terlalu dibuat-buat. Sebab sebenarnya Bram bisa menyalakan AC di dalam kamar bila merasa kegerahan. Jadi tidak perlu meninggalkan kamar secara diam-diam seperti itu

“Tapi dingin AC tidak alami! Malah bisa bikin masuk angin,” Bram mengemukakan alasannya.

“Lho, kok tiba-tiba pakai alasan masuk angin segala? Biasanya pakai AC setiap malam juga nggak apa-apa?” Iren tidak puas dengan jawaban Bram.

“Tapi kenyataannya sekarang aku masuk angin kok kalau pakai AC malam hari.”

“Nggak usah banyak alasan! Bilang saja kamu ingin melihat lukisan perempuan di ruang tamu. Iya, kan?”

“Jangan ngawur!”

“Sudahlah, terus terang saja.”

“Kamu kok jadi ngaco sih?”

“Tidak usah ditutup-tutupi! Bilang saja kamu jatuh cinta kepada wanita dalam lukisan itu!”

Mata Iren mulai berkaca-kaca. Kekesalannya benar-benar memuncak.
“Sekarang jawab pertanyaanku! Siapa sebenarnya wanita dalam lukisan itu? Apa hubunganmu dengan dengan lukisan brengsek itu? Ayo jawab!”
Bram menghela nafas tanpa memberi jawaban.

“Kalau kamu tidak mau menjawab, aku akan pergi dari rumah ini malam ini juga!” Iren mengancam.

Diancam seperti itu hati Bram tersentak. Seingat Bram belum pernah Iren melontarkan kata-kata semacam itu.

“Aku tidak punya hubungan apa-apa dengan lukisan itu, Ren,” Bram mencoba meredam Iren.

“Tetapi kamu selalu memandang lukisan itu dengan kekaguman yang berlebihan.”

“Itu kan wajar. Kamu juga seorang pengagum lukisan, bukan?”

“Tetapi kekagumanmu tidak wajar! Kamu memang keterlaluan! Tidak mengerti perasaan orang lain!” Iren meluapkan kejengkelan yang selama ini dipendamnya.

Malam itu Iren menangis hingga menjelang pagi. Bram sendiri tidak bisa tidur setelah keributan itu. Hingga keesoknya Bram dan Iren tidak saling bicara. Sebenarnya Bram sudah mencoba untuk mencairkan suasana. Tetapi Iren belum bisa menerimanya. Kejengkelan Iren masih belum reda.

***

Beberapa waktu kemudian Iren berinisiatif untuk memindahkan lukisan yang dibencinya itu dari ruang tamu ke ruang makan. Ia meminta Pak Dar, tukang kebunnya, untuk membantu memindahkan lukisan itu. Alasan Iren untuk memindahkannya sederhana, ia mengangap senyum perempuan di dalam lukisan itu terlalu culas untuk menghiasi ruang tamunya.

Mulanya Iren sedikit lega karena lukisan itu sudah tidak berada di ruang tamunya lagi. Tetapi tiba-tiba pikiran Iren berubah lagi. Menurutnya wajah perempuan itu justru akan merusak selera makanya jika berada di ruang makan. Iren tidak mau perempuan itu dengan seenaknya memperhatikan gerak-gerik Iren selama berada di ruang makan. Hal ini tentu lebih menjengkelkan.

Itu sebabnya Iren kembali meminta Pak Dar untuk memindahkan lukisan itu. Kali ini lukisan itu dipindahkannya ke ruang baca yang sekaligus menjadi tempat kerja Bram. Mungkin dengan cara begitu Iren akan semakin jarang melihat wajah perempuan itu.

Tetapi itu pun tidak lama, Iren berubah pikiran lagi. Dalam benak Iren keberadaan lukisan itu di ruang baca justru akan membuat Bram lebih bebas untuk memandanginya sambil menyelesaikan tulisan-tulisannya. Itu berarti Bram akan semakin sering dan betah berada di ruang baca. Ini bisa lebih berbahaya.

Kini Iren tidak tahu lagi harus berbuat apa dengan lukisan yang dibencinya itu. Ia harus menyingkirkannya jauh-jauh. Ia ingin benda itu benar-benar enyah dari pandangannya.

Setelah agak lama menimbang-nimbang Iren akhirnya memutuskan untuk menyimpan lukisan itu di dalam gudang. Menurutnya gudang adalah tempat yang tepat buat benda itu. Pak Dar pun segera memindahkannya ke dalam gudang.

Namun ternyata keputusan Iren itu justru menyulut keributan lain. Ketika Bram kembali ke rumah dan tidak mendapati lukisan itu berada di tempatnya, ia menjadi marah. Kemarahannya bertambah ketika mengetahui benda itu telah berpindah gudang, bersatu dengan benda-benda rongsokan penuh debu. Bram pun tahu kepada siapa ia harus menimpakan kekesalannya. Ketegangan pun tidak bisa dihindari.

“Kamu seperti tidak tahu seni saja! Masak lukisan seperti ini kamu simpan di gudang!” serang Bram setelah bersusah-payah mengeluarkan lukisan itu dari dalam gudang.

“Tapi itu karena kamu juga!” Iren tidak mau kalah.

“Karena aku bagaimana?”

“Karena kamu jatuh cinta kepada perempuan dalam lukisan busuk itu!”

“Tapi itu tidak benar! Kamu berlebihan! Tidak berpikiran jernih! Kamu kekanak-kanakan!”

“Kamu yang tidak berpikiran jernih! Buat apa memelihara barang jelek seperti itu!”

“Apa? Ini barang jelek katamu? Dasar tidak tahu seni!”

“Kamu brengsek!”

“Kamu kampungan!”

“Terserah! Pokoknya aku tidak mau wajah jelek perempuan itu berada di rumah ini! Titik! Malam ini juga ia harus lenyap dari rumah ini selama-lamanya!”

Emosi Bram benar-benar meledak dan menghancurkan barisan terakhir kesabarannya. “Baik kalau memang itu yang kamu inginkan!” kata Bram tiba-tiba.

Setelah berkata demkian Bram memanggil Pak Dar. Ia meminta Pak Dar untuk membawa lukisan itu ke halaman depan rumah dan membakarnya di sana. Dengan penuh ketidak mengertian lelaki itu menjalankan perintah majikannya.

Bram dan Iren menyaksikan sendiri bagaimana Pak Dar menyiramkan minyak tanah ke atas lukisan itu dan mulai mulai menyulutnya dengan korek api. Dalam sekejap api melahapnya habis. Hanya sisa pigura hangus yang menyisa. Kini lukisan itu sudah hilang, beersama dengan perempuan di dalamnya.

Hari-hari berikutnya memang tidak terjadi lagi keributan yang mempersoalkan lukisan itu. Semuanya kembali berjalan normal. Tetapi diam-diam Iren selalu bertanya-tanya di dalam hati, apakah sekarang Bram masih memikirkan lukisan itu? Apakah Bram masih mengenang-ngenang wajah perempuan di dalamnya? Apakah Bram selalu membayangkan wajah perempuan itu setiap kali bercinta dengan Iren? Siapakah dia sebenarnya? Pertanyaan-pertanyaan itu terus memburu Iren hingga kini tanpa pernah ada jawaban.
------

Posted by Hello

1 Comments:

Anonymous Anonymous said...

Yang ini lebih menarik nigar.. aku suka .. karena sebenarnya iren belum mendapatan jawaban atas keingintahuannya.. menurut kamu gimana?

11:04 AM  

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home