Friday, May 27, 2005

NOSTALGI





Cerpen Nigar Pandrianto


Dan ia pun baru sadar kalau hari ini dia telah membunuh dua orang lelaki berturut-turut. Pertama, subuh tadi, ketika ia mencoba meloloskan diri dari penjara. Seorang sipir penjara telah dicekiknya tanpa ampun.

Kedua, sore ini, seorang penjaga tempat pelacuran yang besar tubuhnya dua kali lipat dari dirinya, telah ia tebas lehernya dengan sebilah parang. Ini bukanlah sebuah pekerjaan yang terlalu berat bagi seorang seperti dirinya. Perbuatan itu dilakukan begitu saja tanpa perasaan apa-apa.

“Mana Karsih! Karsih istriku! Apa kalian tahu!” bentak lelaki yang ternyata bernama Barman.
“Jangan mencoba-coba untuk melindungi perempuan laknat itu kalau kalian semua ingin selamat! Ayo! mana dia!”

Semua orang yang berada di tempat pelacuran itu melekatkan pandangannya ke arah Barman. Mereka masih menunggu kalimat–kalimat hardikan lainnya meluncur dari mulut lelaki itu.

“Apa kalian tuli! Mana Karsih si bedebah itu! Seharusnya ia mati! “ teriak Barman lagi. “Cepat! Aku sudah muak dengan bau tempat pelacuran ini!”

Seorang perempuan muncul dari dalam sebuah kamar sambil mengisap sebatang kretek. “Tuan mau mencari isteri tuan? Lucu sekali! Seharusnya isteri tuan sekarang ini berada di rumah sambil menunggu kedatangan tuan,” katanya.

“Aku baru saja meloloskan diri dari penjara keparat untuk menemui isteriku di sini. Aku mendengar isteriku telah menjadi seorang perempuan biadab di tempat ini. Sekarang aku mau melihatnya,” balas Barman agak geram. “Sekarang, tolong serahkan ia padaku!”

“Tidak semudah itu, Tuan. Lagi pula kenapa tuan ingin menemuinya! Apa hak tuan? Bukankah selama ini tuan telah meninggalkannya tanpa bisa memeliharanya? Ia tak akan pernah kembali, Tuan!”

“Jangan banyak bicara! Serahkan ia sekarang juga. Kalau tidak, kalian akan bernasib sama dengan lelaki itu,” ancam Barman sambil menunjuk lelaki yang tergolek mati di depan pintu tempat pelacuran itu, dengan kepala yang sudah terlepas dari tubuhnya.

Tanpa menunjukkan rasa takut, perempuan yang baru muncul dari dalam kamar tadi, berjalan menghampiri Barman. “Ancaman tuan menakutkan sekali kedengarannya, Tapi semua yang ada di sini tidak akan takut dengan ancaman murahan seperti itu.”

“Ayo! Jangan menunggu sampai kesabaranku hilang. Aku sungguh muak. Isteriku menjadi pelacur di tempat ini. Ia telah mengkhianatiku. Aku akan membuat perhitungan dengannya sekarang juga! Begitu juga dengan setiap lelaki yang sering dtang dan tidur dengannya!”

Si perempuan tertawa. “Isteri tuan mungkin sudah tidak berada di sini lagi. Mungkin ia telah pergi dengan laki-laki lain yang dianggapnya lebih bertanggung jawab. Tidak seperti tuan. Lagi pula sepertinya tuan pencemburu sekali. Tetapi tuan harus ingat! Tuan tidak punya hak untuk cemburu.”

Pengunjung tempat pelacuran itu tertawa mendengar perkataan si perempuan. Seorang lelaki malah sempat melempar sebuah botol kosong ke arah Barman meskipun meleset. Tapi Barman tidak beringsut sedikit pun dari tempatnya. Ia terus berdiri sambil menahan geram. Beberapa perempuan tertawa cekikikan melihat Barman seperti itu.

“Kalian semua memang pendosa! Sepantasnya kalian semua masuk neraka! Kalian tak pantas hidup! ” suara Barman keras memecah tempat itu.

“Bukankah tuan pun seorang pendosa?” perempuan tadi balik membalas. “Tuan memang lucu!”

Barman merasa sangat terhina. Ia sebenarnya ingin menyambarkan parangnya ke arah perempuan yang kini berdiri di hadapannya. Dan jika perlu ia sarangkan juga parangnya ke leher semua orang yang ada di situ. Itu hal biasa yang biasa baginya. Bahkan ia bisa melakukannya dengan senang hati. Tapi, entah kenapa, ia tak sanggup melakukan itu. Semua gerakan-gerakan tubuhnya seakan tertahan oleh sesuatu.

“Tetapi, tuan tidak hanya lucu,” tambah si perempuan tadi seraya menyemburkan asap kretek dari mulutnya ke wajah Barman. “Ternyata Tuan juga sungguh memalukan. Datang kemari hanya untuk mengusik kami. Bahkan terlintas di benak Tuan untuk menghabisi kami. Sungguh sebuah tindakan dengan pemikiran kerdil.”

“Bedebah! Aku ini penjahat kelas kakap, kau tahu itu! Aku sudah bisa menghabisi manusia dengan cara yang paling kejam.Termasuk menghabisi kau!”
“Silahkan saja kalau tuan sanggup.”

Barman ingin sekali memenuhi tantangan perempuan itu. Tapi, sekali lagi, sesuatu telah menahannya.

“Terbukti, kan, tuan memang tidak mempunyai nyali untuk melakukannya.”

Barman tetap mematung. Ruangan yang dipenuhi pasangan laki dan perempuan itu kini riuh oleh cemoohan serta ejekan kepada Barman. Barman sendiri mencoba untuk menulikan telinganya. Tapi percuma saja. Suara-suara itu seakan memburunya dari segala sudut. Barman mencoba melarikan pendengarannya, tetapi suara-suara itu terus mengejar seperti hendak menjeratnya.

Keringatnya kini mengucur deras dari keningnya seiring dengan suara-suara yang menyerang. Barman tidak dapat menahannya lagi. Seluruh tenaga yang ia keluarkan untuk melepaskan diri dari semua itu seakan sia-sia saja.

Lelaki memalukan! Jahanam! Penjahat murahan! Bekas perampok! Pembunuh! Pemerkosa! Suara-suara itu terus mencoba menjeratnya. Barman tidak bisa berbuat apa-apa di tengah tekanan itu. Parang yang dipegangnya hanya bisa ia genggam tanpa bisa digerakkan.

Tiba-tiba, beberapa lelaki juga perempuan berjalan mendekati Barman. Di antaranya ada yang memegang pecahan botol yang siap dihujamkan ke tubuh Barman. Beberapa wanita pun ikut mendekati Barman dan siap untuk mencakar habis wajah dan kulitnya.

Ketakutan dan kengerian yang sangat kini merayapi diri Barman. Sungguh sebuah ketakutan yang tidak pernah ia alami sebelumnya. Kengerian yang tidak lumrah pun kini menghinggapi seorang penjahat besar seperti dia.

Barman ingin berteriak sekerasnya sebagai pengimbang rasa takut yang terus menghajarnya. Tetapi percuma saja, tenggorokannya seperti di sumbat oleh bongkahan-bongkahan batu. Nafasnya bahkan kini sudah tertahan. Dadanya sesak. Tak sanggup lagi Barman meminta pertolongan.

Sementara itu, mereka yang berjalan mendekati Barman memperlihatkan wajah yang penuh kebencian, seakan hendak menghabisinya mentah-mentah. Barman tidak pernah takut pada apa pun atau siapa pun. Tapi kali ini keberaniannya hancur berantakan tanpa bisa dihindari.
Tetapi tiba-tiba saja, semuanya terhenti. Seorang wanita masuk ke dalam ruangan yang sempat menjadi neraka bagi Barman itu.

Bau harum yang bersumber dari tubuh si wanita, memenuhi ruangan dengan cepat. Barman pun tergoda untuk melirik si wanita. Namun seketika itu juga ia terkesiap. Wanita itu sangat dikenalnya.

“Kamu Karsih, kan? Ya, kamu Karsih. Hah, kamu berubah sekarang! Tapi itu pantas untuk perempuan jalang seperti dirimu!” seketika Barman kembali mendapatkan suaranya. Apa yang baru dialaminya hilang begitu saja sejak kedatangan wanita itu.

“Tuan siapa? Apa kita pernah bertemu sebelumnya? Maaf kalau saya sudah melupakan tuan. Tentunya tuan sudah maklum, terlalu banyak lelaki yang telah menjadi tamu saya,” jawab sang wanita sambil terus berjalan menghindari tatap muka langsung dengan Barman.

“Jangan berlagak tolol, Karsih! Aku Barman, suamimu!”

“Suami! Suamiku sudah lama mati. Mati dengan konyol beberapa tahun yang lalu. Seorang suami yang tidak bertanggung jawab. Setelah menjadi perampok, pemerkosa dan pembunuh, ia meninggalkan saya begitu saja. Tapi aku tidak pernah menyesali kematiannya. Semasa hidupnya ia kerap menyiksaku, memukuliku Sungguh seorang lelaki gila dia!”

“Sinting! Kau sudah benar-benar sinting, Karsih! Perempuan bejat sepertimu memang pantas untuk mati!”

“Sabar Kalau memang tuan mau, saya dapat menemani tuan, setidaknya untuk malam ini, atau selama tuan inginkan. Terserah Tuan saja.”

“Otakmu sudah kacau, Karsih,” desis Barman menahan amarah. “Aku sengaja kabur dari penjara untuk melihat perempuan pengkhianat sepertimu melepaskan nyawa di ujung parang ini, dan kamu akan segera merasakannya!”

“Sudahlah, jangan tegang seperti itu tuan. Bicara tuan seperti suami yang kehilangan isteri karena menjadi pelacur murahan. Lebih baik sekarang kita bersenang-senang. Lupakan saja isteri Tuan itu.”

Barman kehilangan kesabarannya. Wanita itu jelas isterinya, Karsih. Namun ia heran, kenapa istrinya itu melupakannya. Atau ia hanya pura-pura saja. Barman tidak habis mengerti.

“Bagaimana? Apa Tuan setuju dengan tawaranku tadi? Ayolah, mungkin ini akan menjadi malam terakhir buat Tuan,” wanita itu berkata lagi, “setelah itu barangkali kita tidak akan berjumpa lagi.”

“Bangsat! Perempuan laknat!” kutuk Barman sembari mengayunkan parangnya ke arah wanita yang ia yakini sebagai Karsih.

Bersamaan dengan itu, terdengar sebuah letusan memecah ruangan itu. Tiba-tiba Barman roboh. Sebutir peluru menembus punggungnya. Beberapa petugas berpakaian seragam menghampiri tubuh Barman dan segera menyeretnya keluar. “Hari ini dia lolos dari dalam penjara setelah membunuh seorang petugas,” kata salah seorang petugas dan terus meninggalkan tempat itu.

Ruangan itu kembali dalamn keadaan normal, seperti hari-hari biasanya. Tawa di sana-sini, musik yang mengalun dengan irama yang sulit diikuti, suara tubrukan antara botol bir dengan gelasnya, semua kembali hidup. Semua kembali berjalan mulus, seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Bahkan genangan darah segar yang keluar dari tubuh Barman, tidak dihiraukan oleh siapa pun.

“Aneh, orang itu mengaku sebagai suamiku. Tapi, memang sepertinya aku pernah mengenalnya. Entah kapan atau di mana. Aku lupa. Tapi yang jelas, suamiku sudah mati beberapa tahun yang lalu. Waktu itu ia berhasil lepas dari penjara setelah membunuh salah seorang penjaga. Lalu ia mencoba untuk membunuhku di sini. Ia merasa dikhiananti olehku. Tapi ia berhasil di tembak mati oleh petugas penjara. Suamiku sudah mati!” kata sang wanita yang nyaris tersambar parang yang dimiliki oleh Barman sambil menyulut sebatang kretek dengan tenang.
Seorang lelaki datang menghampiri si wanita lalu mengajaknya pergi dari situ.

“Tolong temani aku malam ini, Karsih,” bisik si lelaki di telinga si wanita dengan lembut. Si wanita mengikut saja tanpa banyak bicara.

Cimahi, Mei 1996

1 Comments:

Anonymous Anonymous said...

nigar.. ceritanya lumayan..
mirip2 de javu gitu ya..

10:53 AM  

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home