Friday, October 07, 2005

KEPALA (atawa DEMI PENYESUAIAN)



Cerpen Nigar pandrianto

Sambil mengibas-ngibaskan klewang di tangannya, Gampos berteriak-teriak sepanjang gang Kelabu. Isterinya setengah berlari mengikuti dari belakang. Berkali-kali ia memanggil Gampos untuk kembali. Tetapi Gampos sendiri seperti tidak menghiraukannya. Ia terus saja menyumpah-nyumpah sambil sambil menyambar- nyambarkan klewangnya.
Warga gang Kelabu yang kebetulan melihat kejadian itu sangat terkejut. Sebagian warga yang sedang mengaso di sisi gang lari ketakutan dan masuk kedalam rumah. Mereka merasa ngeri melihat klewang di genggaman Gampos. Selanjutnya, mereka mengintip dari balik jendela untuk mengetahui apa yang terjadi kemudian.

“Pokoknya kita tidak bisa terima ini! Aturan dari mana semua itu? Tanpa musawarah main hantam saja!”, ujar Gampos keras. “Apa kita ini dikira kambing, apa? Ini tidak bisa dibiarkan! Pokoknya kita semua, warga gang Kelabu harus melakukan sesuatu! Harus!”

Warga gang Kelabu terheran-heran dengan kelakuan Gampos. Mereka yakin benar sesuatu telah terjadi dengan laki-laki yang sehari-harinya bekerja sebagai tukang angkut di pasar itu. Sebab tidak mungkin tidak terjadi apa-apa sampai ia harus beraksi dengan kelewangnya.

“Apa semua sudah kehilangan akal sehat? Apa semua sudah tidak bisa berpikir waras lagi? Kalau memang kepala semua orang sudah tidak bisa berpikir lagi, lebih baik dipenggal saja dengan kelewang ini. Percuma saja punya kepala dibiarkan punya kepala bertengger disitu jika tidak bisa lagi dipakai untuk berpikir!” kata Gampos lagi. Matanya yang merah melotot ke segala arah. Warga bergidik ngeri melihatnya. Apa lagi melihat kelewang yang diajung-ajungkan Gampos. Gampos seperti orang yang telah kehilangan kesabaran.

Seorang warga tiba-tiba datang dengan ketua RT. Ia rupanya diam-diam melaporkan apa yang terjadi dengan Gampos.

“Heh, Pos, kamu ini apa-apaan? Bikin ribut!” kata ketua RT. “Kamu pikir ini kampungmu sendiri? Seenaknya saja bikin onar. Malah bawa-bawa kelewang segala. Kamu mau bikin takut warga sini, ya? Mau jadi jagoan? Mau jadi preman, begitu? Kamu ini sebenarnya mau apa, Pos?”
Kedatangan ketua RT. Sedikit membuat emosi Gampos mereda. Kelewang yang tadi diancung-acungkannya kini mulai diturunkan. Warga sedikit lega melihatnya.
“Heh, Gampos! Sebenarnya kamu ini kenapa? Ada apa? Sampai membuat geger seperti ini,” tanya ketua RT.

“Anu, Pak, saya mendengar berita,” jawab Gampos.

“Berita? Berita apa?”

“Berita tentang gang Kelabu ini, Pak.”

“Berita tentang gang Kelabu yang mana?”

“Kabarnya gang Kelabu ini akan digusur, Pak. Kalau berita itu benar kan gawat namanya.”

Mendengar apa yang diakatakan Gampos ketua RT malah tertawa. Gampos malah heran melihatnya. “Kenapa harus menjadi gawat segala, Pos. Digusur kok malah gawat. Digusur harusnya malah senang dong, Digusur itu sebuah kehormatan bagi orang yang kecil seperti kita-kita ini. Kita malah harus bangga digusur,” ketua RT berkata tenang. Gampos malah bigung karenanya. Aneh sekali jika saat penggusuran masih ada pihak yang merasa harus berbangga dan beruntung. Sangat tidak masuk akal sehat.

“Lho, Pak RT ini bagaimana, warganya kena gusur kok malah tenang-tenang? Pengusuran artinya kesusahan, penginjak-injakkan hak warga. Apa Pak RT sendiri tidak merasa bakal kesusahan jika rumahnya kena gusur dan entah harus pindah kemana? Yang benar saja dong. Pak RT harusnya membela warganya.”

Ketua RT berjalan mendekati Gampos. Sambil menepuk-nepuk pundak Gampos ia berkata, “Saya sebagai ketua RT sebenarnya merasa bangga memiliki warga seperti kamu, Pos. Kamu ini meskipun hanya tukang angkut dipasar tetapi tahu soal hak dan kewajiban”.

Hidung Gampos nyaris meletus saat mendengar pujian ketua RT itu.

“Tapi,” tambah sang ketua RT. “Soal pengusuran ini lain.”

“Lain bagaimana to, Pak ?”

“Pertama, ini namanya bukan pengusuran. Ingat, bukan pengusuran namanya”

“Habis apa namanya, Pak ?”

“Ini namanya penyesuaian. Ya, penyesuaian!”

“Kok penyesuaian?”

“Lha iya dong. Sebuah kota harus bertambah ramai, bertambah maju. Nah, itu artinya kota ini akan menajadi sorotan masyarakatnya. Tidak hanya itu, kota ini akan menjadi sorotan dunia. Nah, kalau di kota semaju ini masih terdapat perkampungan kumuh seperti gang Kelabu ini, maka reputasi kota ini bakalan turun. Kalu sudah begitu yang rugi dan mendapat malu kan warga masyarakat juga, termasuk para pemimpin kita. Gitu lho, Pos. Makanya perlu diadakan penyesuaian. Tempat ini akan diajadikan tempat yang lebih manusiawi. Misalnya saja perkantoran mewah, atau pertokoan paling megah. Gitu, Pos. Paling tidak, ada rumah susun yang lebih rapih dan tampak berwibawa. Jadi kampung kita harus disesuaikan dengan keadaan.”

Gempos manggut-manggut, entah mengerti atau tidak. Kalau ia menggelengkan kepala bisa-bisa ia dianggap bodoh, atau bahkan mungkin akan dianggap melawan dan tidak sejalan dengan pikiran sang RT.

“Kalau gang ini digusur, kita pindah kemana, Pak?” Gampos masih belum tenang. “Cari rumah di kota kan sulit. Mana mahal lagi. Saya tidak mau pulang ke kampung. Malu sama keluarga di sana. Transmigrasi? Apalagi. Di tempat transmigrasi banyak macannya! Salah-salah, pulang tinggal nama. Lagian, darah saya itu darah kuli pasar, bukan darah petani, Pak!”
“Heh, Pos! Sekali lagi saya katakana, ini bukan penggusuran, tetapi penyesuaian. Ingat itu!” ketua RT menyambar.

“Iya, maaf, Pak,”

“Nah, soal pindahnya kamu itu terserah saja. Tiadak ada pihak yang memaksa kamu tinggal di satu tempat tertentu. Setiap warga punya kebebsan untuk memilih tempat tinggalnya sendiri. Mau di kota, di desa, dihutan atau di pinggir kali, bebas! Asal jangan bikin rugi orang lain. Kamu bebas memilih tempat tinggal dimana pun kamu suka. Setiap warga negara punya kebebasan, Pos.”

“Tapi ke mana, Pak ? Lha wong uang pengganti saja tidak jelas, kok !”

“Untuk sementara jangan pikirkan uang pengganti dulu. Namanya juga menunjang program pembangunan, harus sedikit rela. Dahulukan kepentingan umum, baru kepentingan pribadi. Jadi, soal uang pengganti nanti saja dibicarakan lagi. Yang penting sekarang kamu harus rela. Begitu.”

Gampos semakin bigung setelah mendengarkan perkataan sang ketua RT. Tapi diam-diam saja. Istrinya menarik-narik lengannya meminta segera pulang. Gampos menurut saja. Ia pun pulang. Ketua RT hanya menggeleng kepala.

***
“Betul! Betul sekali! Pengusuran eh penyesuaian memang harus didukung,” kata Gampos tiba-tiba mengejutkan beberapa temannya yang tengah main judi malam itu. “Kapan lagi orang kecil seperti kita ini bisa mendukung pembangunan. Lagi pula apa sih susahnya meninggalkan gang Kelabu ini. Rumah yang kita tempati saja sudah tidak ada bentuknya. Dijual murah pun mungkin tidak akan laku.”

Teman-temannya yang sedang berada di situ tidak segera menanggapi. Mereka masih terus menatapi kartu di tangan.

“Sepertinya memang perlu untuk sekedar memberi pengertian kepada warga disini untuk menyadari bahwa pengusuran adalah salah satu bentuk perwujudan turut sertanya kita dalam pembangunan. Siapa bilang orang kecil seperti kita ini hanya bikin susah orang lain. Kita harus bisa membuktikannya. Ah, meskipun kita tidak mendapat uang ganti rugi, itu tidak jadi masalah. Ini saatnya kita memiliki kesempatan untuk jadi pahlawan. Ya! Pahlawan! Pahlawan tanpa tanda jasa! Pahlawan!”

Gampos melompat kegirangan. Perlahan-lahan air matanya meleleh terharu. Kain sarungnya digunakan untuk mengelap air matanya. Ternyata orang kecil pun bisa menjadi pahlawan. Berbakti pada pemimpin kota tidak hanya bisa dilakukan oleh orang yang berduit saja. Semua bisa dan berhak.

“Kita semua, warga gang Kelabu harus menjadi pahlawan. Jangan sia-siakan kesempatan lagi. Jadilah pahlawan meskipun sebentar atau sekali saja seumur hidup sebelum kemudian kita menjadi banjingan lagi, menjadi gembel,” kata Gampos agak tersedu kepada beberapa temannya. Tapi tak satupun yang menghiraukan Gampos. Mereka terus asyik membanting-banting kartu.

Dua minggu kemudian puluhan petugas berseragam tampak berada di sekitar gang Kelabu. Sebuah buldozer perlahan bergerak mendekati rumah–rumah yang terhimpit. Penggusuran dilakukan. Tanpa perintah atau paksaan warga berduyun-duyun meninggalkan tempat tinggalnya dan berdiri dari kejauhan. Mereka memandangi rumah mereka yang satu per satu mulai roboh. Tidak ada keributan sama sekali. Semua berjalan dengan tenang sampai tiba-tiba Gampos berlarian di antara reruntuhan.

“Nah, lihat kita semua menjadi pahlawan!” teriak Gampos sambil mengacungkan klewangnya.

“Lihat bapak-bapak petugas, kami memang bertekad untuk melancarkan segalanya. Kami benar-benar mau berbakti, itu sebabnya kami tidak menuntut apa pun. Lihat, tidak ada yang melawan kan. Kami warga yang penuh kesadaran akan pentingnya kepentingan umum”.

Gampos berjalan mendekati reruntuhan. Beberapa petugas mulai berpikir kalau Gampos mau bertindak yang macam-macam. Dengan sekali perintah dari pimpinan rombongan, para petugas menyergap Gampos. Dalam beberapa detik Gampos berhasil diringkus. Gampos meronta sejadi-jadinya. Klewangnya diayunkan sebisa mungkin.

“Apa-apaan ini? Apa salah saya! Saya dan warga gang Kelabu ini hanya ingin menjadi pahlawan pembangunan. Saya hanya ingin meyerahkan segalanya untuk kemajuan kota ini! Tapi kenapa saya malah ditangkap. Lihat semua warga dengan tanpa menunutut merelakan segalanya. Lihat! Apa kalian tidak percaya niat baik kami semua?” teriak Gampos sambil terus berusaha untuk lepas dari sergapan petugas. Setelah meronta sekuat tenaga,ia berhasil lolos.

“Saya mau menolong kalian, kenapa kalian harus menangkap saya, heh!” hardik Gampos pada petugas. “Demi penyesuaian saya merelakan segalanya. Demi penyesuaian. Apa kalian ini tidak percaya? Kalau kalian tidak percaya lihat sendiri nih…” Sambil berkata demikian, Gampos mengayunkan klewangnya ke arah lehernya. Tak pelak lagi, darah berhamburan kesana-kemari. Pakaian petugas pun tak luput dari semburan darah. Para petugas dan warga gang Kelabu hanya bisa melongo melihat kejadian yang berlangsung cepat itu.

"Nah, sekarang kalian, semua bisa melihat sendiri isi kepala saya ini. Lihat saja sendiri!” kata gampos seraya menyodorkan kepalanya tanpa malu-malu. “Demi penyesuaian!”

Bandung, 28 Februari 1996

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home