Sekelumit Tentang Persepolis (yang tak jadi beredar)

Seorang kawan yang bekerja di sebuah penerbit bertemu dengan saya malam lalu. Pada kesempatan tersebut ia memberitahukan kepada saya tentang sebuah buku (tepatnya sebuah novel grafis) yang baru saja dicetak beberapa ribu eksemplar.
Menurutnya, buku itu sudah ditunjukkan kepada publik lewat sebuah newsletter dari penerbit tempat ia bekerja.
Namun sayangnya, menurut kawan saya itu, buku tersebut tidak jadi diedarkan. Terang saja saya jadi terkejut. Pertanyaan yang muncul ialah, kenapa buku tersebut tidak diedarkan. Apakah karena ada "kekuasaan" tertentu yang menghambat peredarannya? Jika memang demikian, pertanyaan lain muncul, siapa pihak yang melakukannya? Mengapa mereka melakukan hal itu?
Lalu, jika memang ada "kekuasaan" yang "bermain" dan berujung pada tidak terbitnya buku itu, paling tidak, saya jadi semakin yakin, bahwa di negeri ini kita belum lagi dewasa dalam berdemokrasi, masih kegerahan dalamberbeda pendapat, dan belum fasih untuk saling berlawanan pandangan.
Tapi kawan saya buru-buru menjelaskan. Penghentian rencana penerbitan buku tersebut didasarkan pada kecemasan terhadap reaksi dari golongan tertentu yang mungkin muncul dari buku ini. Maklum saja buku ini melakukan banyak kritik terhadap kondisi sosial di Iran dan tuntutan untuk melakukan perubahan di negeri itu. Seperti ditulis oleh penulisnya Marjane Satrapi dalam pengantar buku ini:
"Saya percaya bahwa seluruh negeri tidak seharusnya dihakimi karena perbuatan keliru beberapa ekstrimis. Saya juga tidak ingin orang-orang Iran kehilangan nyawa dipenjara karena membela kebebasan, yang meninggal dalam perang melawan Irak, yang menderita di bawah tekanan berbagai rezim represif, atau yang terpaksa meninggalkan keluarga mereka dan melarikan diri dari tanah kelahiran mereka dilupakan.
Orang bisa memaafkan, tetapi orang seharusnya tidak pernah lupa."
Jadi, sayang sekali, terjemahan buku ini tidak bisa kita nikmati di negeri ini. Tapi kawan saya memberikan satu copy dari buku yang dijamin tidak akan ada di pasaran itu.


3 Comments:
daripada bermain "kekuasaan" lebih baik bermain bulutangkis :D
batminton d mana-mana...
d kota jeung d desa... :-"
*inget ga tu lagu sunda?
bulu tangkis... eta bulu meni ka ditangkis-tangkis atuuuh....
eh itu potona akuh yah.. hihihihihi...
Post a Comment
Subscribe to Post Comments [Atom]
<< Home