Wednesday, July 19, 2006

Misteri Kematian (Bagian 1)

Beberapa waktu lalu (7/06) saya menyempatkan diri untuk membaca catatan sepak bola Sindhunata yang ditulis di harian Kompas berjudul Bermain dalam Grup Neraka.
Terus terang, saya bukan penggila atau pun pecandu sepak bola. Disebut begitu, karena dalam setahun, jumlah pertandingan sepak bola yang saya saksikan dihitung dengan jari.
Tidak heran kalau kemudian saya lebih sering “nggak connect” saat diajak bicara soal sepak bola. Sepanjang ingatan saya, saya hanya akan menonton sepak bola pada saat PERSIB turun lapangan, atau saat Piala Dunia digelar.
Namun, entah kenapa, tulisan di harian Kompas mengenai sepak bola di hari itu begitu menarik buat saya. Apakah karena judul tulisan tersebut memang menarik karena bicara soal kematian, atau memang saya begitu “kesengesem” oleh penulisnya yang baru-baru ini meluncurkan buku mengenai teori-teori “kambing hitam” Rene Girard? Baiklah, kita anggap ketertarikan itu bertolak dari alasan pertama
Bagi saya, dan mungkin bagi kita semua, kematian selalu menghadirkan misteri, menggelitik rasa ingin tahu, dan mengundang pertanyaan. Seperti apakah kematian itu? Adakah kehidupan setelah kematian?
Lalu, jika memang ada kehidupan setelah kematian, apa yang akan kita lakukan di sana. Jika benar ada kehidupan di “alam sana”, bagian dari diri kita yang manakah yang “hidup di sana” itu?
Socrates boleh berkali-kali menyebutkan bahwa kehidupan setelah kematian itu ada, tetapi toh hal itu tidak serta-merta menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Bahkan semakin hari kematian semakin dianggap mengerikan, menakutkan dan orang selalu berusaha untuk menghindarkan diri dari kematian dengan berbagai cara.
Tetapi, seperti dikutip oleh Sindhunata dalam tulisannya (ia mengutip Epikurus, filsuf Yunani Kuno), bahwa manusia harus memandang kematian dengan sebelah mata. Soalnya, bukan kematian karena itu ada atau tidak, tetapi karena “yang ada” dan “yang berarti” adalah hidup ini. Begitu hidup ini selesai, selesai sudah semuanya. Menurut etika epikurian, kita harus mempertahankan dan menjalankan hidup ini sebaik-baiknya, dan semaksimal mungkin,
Lalu kenapa kita harus hidup jika memang kematian akhirnya harus berhadapan dengan kita. Pertanyaan ini tidak ada bedanya dengan kekesalan saya ketika membaca Pertempuran Penghabisan yang ditulis Ernest Hemingway. Kisah cinta yang indah dan penuh perjuangan setebal 500 halaman itu akhirnya harus diakhiri dengan kematian. Ah betapa banyak yang dikecewakan oleh kematian bukan?
Usaha untuk melawan rasa takut dalam menghadapi kematian pun pernah disampaikan oleh Goenawan Mohammad dalam sebuah kolomnya. Menurut pendapat saya, di satu sisi, etika epikurian ini bisa benar, bahwa hidup ini adalah penting dan karenanya seseorang harus berbuat sesuatu yang baik selama hidup. Namun mungkinkah seorang manusia berbuat benar dan baik tanpa mempertimbangan, tanpa memikirkan dimensi-dimensi metafisik yang ilahi, yang hanya didapat dalam nuansa kematian, terutama bagi kaum theis. Jawabannya, “ya”!


Catatan:
1.) Menurut catatan Bertrand Russel, dalam buku Sejarah Filsafat Barat, Epikurus sejak kecil kerap mendampingi ibunya membaca doa-doa prufikasi serta membantu ayahnya mengajar pengetahuan dasar demi upah yang sangat sedikit (Russel mengutip tulisan Diogeneses Laertius) yang hidup abad ke 3 M. Karenanya tak heran jika kemudian ia membenci tahayul. Apalagi pada empat belas tahun ia belajar filsafat.
Di satu sisi lain lagi etika epukurian ini mendorong manusia untuk mendekati hal-hal yang hedonisme. Hermarchus, pengikut awal Epikurus misalnya, memandang kesenangan adalah kebaikan tertinggi. Tidak heran jika pada abad 4 SM hingga 5 SM terjadi polemik hebat antara kaum Epikurian dengan kaum Stoa, kaum Skeptik dan filsuf-filsuf Aristotelian.