Friday, April 28, 2006

Kamar 227, Plaza Yogya, 23-24 April 2006


Foto: Elly H
Lokasi: Nusa Dua, Bali

Perjumpaan kita di kamar itu
Seperti kembali menggali masa lalu
Ketika ada rahasia yang sama-sama kita sembunyikan
Ketika ada cerita yang sama-sama kita kubur
Mimpi kita pun jadi kabur

Dalam diam kita saling bertatap
Mencoba saling menyampaikan pesan
Meski tetap saja samar

Perjumpaan kita di kamar itu
Mungkin untuk yang terakhir
Dan kita masih saja saling terdiam
Masih sama-sama mematut-matut rahasia itu

24 April 2006
Posted by Picasa

Thursday, April 27, 2006


Tanggal 24 lalu, di boarding room di bandara Adisutjipto Yogyakarta, saya sempat menyatroni sebuah toko buku. Di sana tampak sejumlah buku yang rasanya tidak pernah saya jumpai sebelumnya. Buku tersebut berjudul Tradisi Kehidupan Sastra di Kasultanan Yogyakarta. Harganya lumayan mahal untuk buku setebal 312 halaman. Tapi tak apa, saya menghargai orang-orang yang telah bersusah payah melakukan riset untuk melahirkan buku ini. Ah, kenapa yang harus saya cari lagi-lagi buku?  Posted by Picasa

Tuesday, April 25, 2006


Tanggal 23 Aprikl 2006 saya juga sempat berkunjung ke Mirota. Yogyakarta. Di sana, diantara batik dan barang barang kerajinan yang ditata apik, saya menemukan buku berjudul WATON URIP karangan Sindhunata. Buku ini mengisahkan filosofi kebijakan wong cilik di Yogyakarta, terutama tukang becang. Buku ini dilengkapi foto, puisi dan teks mengenai tukang becak dan kehidupannya yang sederhana namun "kaya".. Sangat humanis... Seingat saya, saya belum pernah melihat buku ini di Jakarta... Posted by Picasa

Tanggal 23 April 2006 lalu saya sempat mampir ke pusat penjualan buku di Yogyakarta. Shoping. Posisinya ada di belakang pasar Beringharjo, tepat di sebelah kanan Gedung Kesenian Yogyakarta. Di sini saya mendapatkan sebuah buku lama yang berisi beberapa cerita berbahasa Sunda. Judulnya Sari Poestaka. Meski masih ditulis dalam ejaan lama, buku ini masih enak dibaca dan mampu membawa kita ke masa lampau. Posted by Picasa

Thursday, April 20, 2006

Sekelumit Tentang Persepolis (yang tak jadi beredar)





Seorang kawan yang bekerja di sebuah penerbit bertemu dengan saya malam lalu. Pada kesempatan tersebut ia memberitahukan kepada saya tentang sebuah buku (tepatnya sebuah novel grafis) yang baru saja dicetak beberapa ribu eksemplar.


Menurutnya, buku itu sudah ditunjukkan kepada publik lewat sebuah newsletter dari penerbit tempat ia bekerja.

Namun sayangnya, menurut kawan saya itu, buku tersebut tidak jadi diedarkan. Terang saja saya jadi terkejut. Pertanyaan yang muncul ialah, kenapa buku tersebut tidak diedarkan. Apakah karena ada "kekuasaan" tertentu yang menghambat peredarannya? Jika memang demikian, pertanyaan lain muncul, siapa pihak yang melakukannya? Mengapa mereka melakukan hal itu?

Lalu, jika memang ada "kekuasaan" yang "bermain" dan berujung pada tidak terbitnya buku itu, paling tidak, saya jadi semakin yakin, bahwa di negeri ini kita belum lagi dewasa dalam berdemokrasi, masih kegerahan dalamberbeda pendapat, dan belum fasih untuk saling berlawanan pandangan.

Tapi kawan saya buru-buru menjelaskan. Penghentian rencana penerbitan buku tersebut didasarkan pada kecemasan terhadap reaksi dari golongan tertentu yang mungkin muncul dari buku ini. Maklum saja buku ini melakukan banyak kritik terhadap kondisi sosial di Iran dan tuntutan untuk melakukan perubahan di negeri itu. Seperti ditulis oleh penulisnya Marjane Satrapi dalam pengantar buku ini:

"Saya percaya bahwa seluruh negeri tidak seharusnya dihakimi karena perbuatan keliru beberapa ekstrimis. Saya juga tidak ingin orang-orang Iran kehilangan nyawa dipenjara karena membela kebebasan, yang meninggal dalam perang melawan Irak, yang menderita di bawah tekanan berbagai rezim represif, atau yang terpaksa meninggalkan keluarga mereka dan melarikan diri dari tanah kelahiran mereka dilupakan.
Orang bisa memaafkan, tetapi orang seharusnya tidak pernah lupa."

Jadi, sayang sekali, terjemahan buku ini tidak bisa kita nikmati di negeri ini. Tapi kawan saya memberikan satu copy dari buku yang dijamin tidak akan ada di pasaran itu.

Tuesday, April 04, 2006

Paliwat dina Kareta atawa Meeting on a Train




Paliwat dina Kareta

Kis. Ws.

Kareta Jakarta-Surabaya
jeung Surabaya-Bandung
paliwat tengahing jalan
duanana tonggoy nyemprung

panumpang paboro-boro ngaralong
papaliwat pada numpakan kilat
semet silih reret sajorelat

ieu diri bet asa reg cicing
nu maju ting belesur
ukur batur

Perjalanan, 22 Agustus '76



English:

Meeting On a Train
Kis. Ws.

the train from Jakarta to Surabaya
and the train from Surabaya to Jakarta
cross each other on their way

the passenggers look out of the window
borne along on lightning
eyes meeting for a moment

why di I feel stalled
as we speed on in our flight
Only the others are moving!

Journeying. 22 Agustus '76

Monday, April 03, 2006

Bandung Pasosore


by Apip Mustopa

mapay jalan Dewi Sartika
pabaur jeung hirup Bandung
mobil ting salebrung
nu laleumpang ngalabring
atawa di pusat perbelanjaan ngagimbung

hereupeun masjid agung
aya budak ngora meuntas
beulah ditu kenek angkot ngagorowok
ka Cimahi nying?

(naha enya ieu teh Bandung kuring?)

Nopember 1993