Friday, March 31, 2006

Sajak untuk Michelle Wie *)



Seandainya kau menuliskan sebuah sajak cinta untukku

Kb Jeruk, 31/03/06

*) Pegolf berbakat dan cantik asal AS

Konser Semalam *)

Semalam waktu seakan berputar terbalik
menjadi pecahan peristiwa yang kugeledah satu per satu
terjatuh pada ekstase
ada cinta, waktu, malam, haru, gelisah dan galau
seperti sihir yang bersijingkat menghampiri


*) catatan konser KLA Project 5 Senses, JHCC, 2006

Monday, March 27, 2006

Pembacaan Cerita Menjelang Mimpi Buruk

Gelisah yang menawan kami, telah menjadi pakaian obral yang digantung di etalase toko yang akan tutup minggu depan
Meski kami tak sanggup membayar tetapi toh dipaksa juga, ditambah bonus ketakutan tentunya
Lemari es tak lagi bisa kami beli, sebab sudah dibawa dari negeri kami menuju hutan-hutan gelap tanpa identitas, dan kami tak bisa lagi menaruh tombak serta panah di dalamnya
Ah, kami mendengar akan ada kapal-kapal besar yang akan berlayar menembus badai, tetapi hingga kini tidak datang juga, kabarnya telah tersangkut penyanyi blues dan ahli-ahli perang dari utara.
Buku-buku yang dibaca tak lagi mengeluarkan bau harum, tetapi mengeluarkan mobil-mobil Jepang, anggur Selandia Baru, serta kangguru yang telah membunuh suku Aborijin. “Kemana kereta ini akan membawa kita?”

Friday, March 24, 2006

Senjata dan Sekaleng Coca-cola yang Dibeli di Rumah Bordil

Senjata di pekarangan kami telah meledak semalam
Membakar koran-koran dan radio
Pemadam kebakaran tak bisa berbuat apa-apa
Hanya bisa menyaksikan sebuah talk show dari sebuah kotak sabun

Senjata di pekarangan kami telah membunuh banyak orang
Jalan-jalan jadi sepi, tapi pasar tetap saja ramai
Orang menjual daging, peluru, kapal dan buku resep masakan
Sambil bermain kartu di televisi

Senjata di pekarangan kami bukan lagi harapan kami
Tetapi menjadi harapan ribuan rumah di negeri-negeri jauh
Kami menjadi botol-botol infus yang disedot
Oleh bayi-bayi plastik yang baru lahir sambil mngisap marijuana

Senjata di pekarangan kami
kini telah ditukar dengan sekaleng Coca-cola
Yang dibeli di rumah-rumah bordil,
seharga ketakutan dan kengerian

Kb Jrk, 24 Maret 2006

Sajak untuk Seorang Gadis Cina yang Kulihat Pagi Ini di Persimpangan Jalan



Aku yakin
Kau bukanlah Fang Fang *)
Tapi biarlah kucium aroma tubuhmu itu
Meski hanya sekilas

Tak ada perjumpaan
Hanya kenangan
Tapi tak akan pernah lindap

*) Tokoh dalam novel Saputangan Gambar Naga, Suparto Brata


Tuesday, March 21, 2006

Perempuan yang Menyisir Rambutnya Pada Pagi Hari


kepada UH


Seperti menyajikan erotika
rambut yang setengah basah (sepertinya sisa keramas) menahan sejumlah rahasia
mencacah hening yang kupersiapkan sejak malam
menawanku dengan catatan pertanyaan

kuintip celah dari kancing bajunya
mungkin ada rahasia tentang hidupnya
yang ia telah sembunyikan di situ

Lewat Jaringan Kata




Kubenamkan kepala lewat sebuah jaringan kata
dan kulihat semuanya mulai berbaringan tanpa tahu malu
di atas mesin yang mulai menggerakkan dirinya sendiri
dengan memberi nama keabadian

Dan perlahan ada yang berbisik
"tak sadarkah kalau engkau hampir mati?"

Thursday, March 16, 2006

Sore, Perempatan Pasirkaliki-Pajajaran

Seperti menatap kapal asing yang datang dari barat
Tanpa gemetar kita menghadapinya
Kaleng dan botol minuman berhamburan
Membawa cerita dari negeri-negeri jauh
Sebagian terbaca, sebagian besar lagi bahkan tidak pernah diingat
Dongeng-dongeng asing menjadi bacaan wajib di malam hari
Sebelum tidur dan bermimpi tentang Cinderella

Kami pun bertemu dengan orang-orang berbahasa asing
Dan berbicara dengan dengan isyarat
Tak ada yang bisa dimengerti
Semuanya semakin asing

Wednesday, March 15, 2006

Terkenang Cikapundung



Melintasi Braga
Lalu menuju Viaduct
Hampir tak ada sisa
Dari masa lalu

Ada yang tersenyum
Tapi hanya sekilas
Hampir tak berbekas
Samar-samar ada yang memanggilku

Monday, March 06, 2006

Puisi




Mulanya tanpa nama
mengalir dalam darahku
gagap ketika mencoba mengalirkannya
bergejolak ketika menjadi api dalam diri

dari cinta, sampai alamat kematian
semua mengalir sering tanpa kira
membekukan, menggirangkan, kadang memualkan

puisi, untuk siapa?


Kebon Jeruk 6 Maret 2006

Malam Penuh Gelombang

Kita lagi-lagi bercumbu lewat kata
membiarkan imajinasi menyayat-nyayat
desahmu menjadi gelombang
kataku menjadi badai

ketika berakhir, lelah mendamparkan kita
ke laut pertanyaan


(di sana kau menarik kain,
di sini aku buru-buru mencari tissue)

Kebon Jeruk, 6 Maret 2006

Panorama Kematian

Jenazah itu terbujur kaku
Mengingatkanku,
suatu kali aku akan seperti itu

Kematian, seperti makin akrab *)

Kebon Jeruk, 6 Maret 2006

*) Teringat aku pada puisi Soebagyo Sastrowardoyo: Dan Kematian Pun Semakin Akrab

Tortor Percintaan

Oleh Sitok Srengenge


Sehelai Rambutmu
tertinggal di kancing bajuku

1990

Friday, March 03, 2006

Mengeja C-i-n-t-a




Mana mungkin!
c-i-n-t-a
kalau masih saja masih dieja
bagaimana bisa dimengerti

3 Maret 2006

Kucari Engkau





Kucari engkau
Kulacak engkau
Lewat kata-kata
yang tidak terdapat dalam sajak-sajaku

19/11/94