Friday, May 27, 2005

NOSTALGI





Cerpen Nigar Pandrianto


Dan ia pun baru sadar kalau hari ini dia telah membunuh dua orang lelaki berturut-turut. Pertama, subuh tadi, ketika ia mencoba meloloskan diri dari penjara. Seorang sipir penjara telah dicekiknya tanpa ampun.

Kedua, sore ini, seorang penjaga tempat pelacuran yang besar tubuhnya dua kali lipat dari dirinya, telah ia tebas lehernya dengan sebilah parang. Ini bukanlah sebuah pekerjaan yang terlalu berat bagi seorang seperti dirinya. Perbuatan itu dilakukan begitu saja tanpa perasaan apa-apa.

“Mana Karsih! Karsih istriku! Apa kalian tahu!” bentak lelaki yang ternyata bernama Barman.
“Jangan mencoba-coba untuk melindungi perempuan laknat itu kalau kalian semua ingin selamat! Ayo! mana dia!”

Semua orang yang berada di tempat pelacuran itu melekatkan pandangannya ke arah Barman. Mereka masih menunggu kalimat–kalimat hardikan lainnya meluncur dari mulut lelaki itu.

“Apa kalian tuli! Mana Karsih si bedebah itu! Seharusnya ia mati! “ teriak Barman lagi. “Cepat! Aku sudah muak dengan bau tempat pelacuran ini!”

Seorang perempuan muncul dari dalam sebuah kamar sambil mengisap sebatang kretek. “Tuan mau mencari isteri tuan? Lucu sekali! Seharusnya isteri tuan sekarang ini berada di rumah sambil menunggu kedatangan tuan,” katanya.

“Aku baru saja meloloskan diri dari penjara keparat untuk menemui isteriku di sini. Aku mendengar isteriku telah menjadi seorang perempuan biadab di tempat ini. Sekarang aku mau melihatnya,” balas Barman agak geram. “Sekarang, tolong serahkan ia padaku!”

“Tidak semudah itu, Tuan. Lagi pula kenapa tuan ingin menemuinya! Apa hak tuan? Bukankah selama ini tuan telah meninggalkannya tanpa bisa memeliharanya? Ia tak akan pernah kembali, Tuan!”

“Jangan banyak bicara! Serahkan ia sekarang juga. Kalau tidak, kalian akan bernasib sama dengan lelaki itu,” ancam Barman sambil menunjuk lelaki yang tergolek mati di depan pintu tempat pelacuran itu, dengan kepala yang sudah terlepas dari tubuhnya.

Tanpa menunjukkan rasa takut, perempuan yang baru muncul dari dalam kamar tadi, berjalan menghampiri Barman. “Ancaman tuan menakutkan sekali kedengarannya, Tapi semua yang ada di sini tidak akan takut dengan ancaman murahan seperti itu.”

“Ayo! Jangan menunggu sampai kesabaranku hilang. Aku sungguh muak. Isteriku menjadi pelacur di tempat ini. Ia telah mengkhianatiku. Aku akan membuat perhitungan dengannya sekarang juga! Begitu juga dengan setiap lelaki yang sering dtang dan tidur dengannya!”

Si perempuan tertawa. “Isteri tuan mungkin sudah tidak berada di sini lagi. Mungkin ia telah pergi dengan laki-laki lain yang dianggapnya lebih bertanggung jawab. Tidak seperti tuan. Lagi pula sepertinya tuan pencemburu sekali. Tetapi tuan harus ingat! Tuan tidak punya hak untuk cemburu.”

Pengunjung tempat pelacuran itu tertawa mendengar perkataan si perempuan. Seorang lelaki malah sempat melempar sebuah botol kosong ke arah Barman meskipun meleset. Tapi Barman tidak beringsut sedikit pun dari tempatnya. Ia terus berdiri sambil menahan geram. Beberapa perempuan tertawa cekikikan melihat Barman seperti itu.

“Kalian semua memang pendosa! Sepantasnya kalian semua masuk neraka! Kalian tak pantas hidup! ” suara Barman keras memecah tempat itu.

“Bukankah tuan pun seorang pendosa?” perempuan tadi balik membalas. “Tuan memang lucu!”

Barman merasa sangat terhina. Ia sebenarnya ingin menyambarkan parangnya ke arah perempuan yang kini berdiri di hadapannya. Dan jika perlu ia sarangkan juga parangnya ke leher semua orang yang ada di situ. Itu hal biasa yang biasa baginya. Bahkan ia bisa melakukannya dengan senang hati. Tapi, entah kenapa, ia tak sanggup melakukan itu. Semua gerakan-gerakan tubuhnya seakan tertahan oleh sesuatu.

“Tetapi, tuan tidak hanya lucu,” tambah si perempuan tadi seraya menyemburkan asap kretek dari mulutnya ke wajah Barman. “Ternyata Tuan juga sungguh memalukan. Datang kemari hanya untuk mengusik kami. Bahkan terlintas di benak Tuan untuk menghabisi kami. Sungguh sebuah tindakan dengan pemikiran kerdil.”

“Bedebah! Aku ini penjahat kelas kakap, kau tahu itu! Aku sudah bisa menghabisi manusia dengan cara yang paling kejam.Termasuk menghabisi kau!”
“Silahkan saja kalau tuan sanggup.”

Barman ingin sekali memenuhi tantangan perempuan itu. Tapi, sekali lagi, sesuatu telah menahannya.

“Terbukti, kan, tuan memang tidak mempunyai nyali untuk melakukannya.”

Barman tetap mematung. Ruangan yang dipenuhi pasangan laki dan perempuan itu kini riuh oleh cemoohan serta ejekan kepada Barman. Barman sendiri mencoba untuk menulikan telinganya. Tapi percuma saja. Suara-suara itu seakan memburunya dari segala sudut. Barman mencoba melarikan pendengarannya, tetapi suara-suara itu terus mengejar seperti hendak menjeratnya.

Keringatnya kini mengucur deras dari keningnya seiring dengan suara-suara yang menyerang. Barman tidak dapat menahannya lagi. Seluruh tenaga yang ia keluarkan untuk melepaskan diri dari semua itu seakan sia-sia saja.

Lelaki memalukan! Jahanam! Penjahat murahan! Bekas perampok! Pembunuh! Pemerkosa! Suara-suara itu terus mencoba menjeratnya. Barman tidak bisa berbuat apa-apa di tengah tekanan itu. Parang yang dipegangnya hanya bisa ia genggam tanpa bisa digerakkan.

Tiba-tiba, beberapa lelaki juga perempuan berjalan mendekati Barman. Di antaranya ada yang memegang pecahan botol yang siap dihujamkan ke tubuh Barman. Beberapa wanita pun ikut mendekati Barman dan siap untuk mencakar habis wajah dan kulitnya.

Ketakutan dan kengerian yang sangat kini merayapi diri Barman. Sungguh sebuah ketakutan yang tidak pernah ia alami sebelumnya. Kengerian yang tidak lumrah pun kini menghinggapi seorang penjahat besar seperti dia.

Barman ingin berteriak sekerasnya sebagai pengimbang rasa takut yang terus menghajarnya. Tetapi percuma saja, tenggorokannya seperti di sumbat oleh bongkahan-bongkahan batu. Nafasnya bahkan kini sudah tertahan. Dadanya sesak. Tak sanggup lagi Barman meminta pertolongan.

Sementara itu, mereka yang berjalan mendekati Barman memperlihatkan wajah yang penuh kebencian, seakan hendak menghabisinya mentah-mentah. Barman tidak pernah takut pada apa pun atau siapa pun. Tapi kali ini keberaniannya hancur berantakan tanpa bisa dihindari.
Tetapi tiba-tiba saja, semuanya terhenti. Seorang wanita masuk ke dalam ruangan yang sempat menjadi neraka bagi Barman itu.

Bau harum yang bersumber dari tubuh si wanita, memenuhi ruangan dengan cepat. Barman pun tergoda untuk melirik si wanita. Namun seketika itu juga ia terkesiap. Wanita itu sangat dikenalnya.

“Kamu Karsih, kan? Ya, kamu Karsih. Hah, kamu berubah sekarang! Tapi itu pantas untuk perempuan jalang seperti dirimu!” seketika Barman kembali mendapatkan suaranya. Apa yang baru dialaminya hilang begitu saja sejak kedatangan wanita itu.

“Tuan siapa? Apa kita pernah bertemu sebelumnya? Maaf kalau saya sudah melupakan tuan. Tentunya tuan sudah maklum, terlalu banyak lelaki yang telah menjadi tamu saya,” jawab sang wanita sambil terus berjalan menghindari tatap muka langsung dengan Barman.

“Jangan berlagak tolol, Karsih! Aku Barman, suamimu!”

“Suami! Suamiku sudah lama mati. Mati dengan konyol beberapa tahun yang lalu. Seorang suami yang tidak bertanggung jawab. Setelah menjadi perampok, pemerkosa dan pembunuh, ia meninggalkan saya begitu saja. Tapi aku tidak pernah menyesali kematiannya. Semasa hidupnya ia kerap menyiksaku, memukuliku Sungguh seorang lelaki gila dia!”

“Sinting! Kau sudah benar-benar sinting, Karsih! Perempuan bejat sepertimu memang pantas untuk mati!”

“Sabar Kalau memang tuan mau, saya dapat menemani tuan, setidaknya untuk malam ini, atau selama tuan inginkan. Terserah Tuan saja.”

“Otakmu sudah kacau, Karsih,” desis Barman menahan amarah. “Aku sengaja kabur dari penjara untuk melihat perempuan pengkhianat sepertimu melepaskan nyawa di ujung parang ini, dan kamu akan segera merasakannya!”

“Sudahlah, jangan tegang seperti itu tuan. Bicara tuan seperti suami yang kehilangan isteri karena menjadi pelacur murahan. Lebih baik sekarang kita bersenang-senang. Lupakan saja isteri Tuan itu.”

Barman kehilangan kesabarannya. Wanita itu jelas isterinya, Karsih. Namun ia heran, kenapa istrinya itu melupakannya. Atau ia hanya pura-pura saja. Barman tidak habis mengerti.

“Bagaimana? Apa Tuan setuju dengan tawaranku tadi? Ayolah, mungkin ini akan menjadi malam terakhir buat Tuan,” wanita itu berkata lagi, “setelah itu barangkali kita tidak akan berjumpa lagi.”

“Bangsat! Perempuan laknat!” kutuk Barman sembari mengayunkan parangnya ke arah wanita yang ia yakini sebagai Karsih.

Bersamaan dengan itu, terdengar sebuah letusan memecah ruangan itu. Tiba-tiba Barman roboh. Sebutir peluru menembus punggungnya. Beberapa petugas berpakaian seragam menghampiri tubuh Barman dan segera menyeretnya keluar. “Hari ini dia lolos dari dalam penjara setelah membunuh seorang petugas,” kata salah seorang petugas dan terus meninggalkan tempat itu.

Ruangan itu kembali dalamn keadaan normal, seperti hari-hari biasanya. Tawa di sana-sini, musik yang mengalun dengan irama yang sulit diikuti, suara tubrukan antara botol bir dengan gelasnya, semua kembali hidup. Semua kembali berjalan mulus, seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Bahkan genangan darah segar yang keluar dari tubuh Barman, tidak dihiraukan oleh siapa pun.

“Aneh, orang itu mengaku sebagai suamiku. Tapi, memang sepertinya aku pernah mengenalnya. Entah kapan atau di mana. Aku lupa. Tapi yang jelas, suamiku sudah mati beberapa tahun yang lalu. Waktu itu ia berhasil lepas dari penjara setelah membunuh salah seorang penjaga. Lalu ia mencoba untuk membunuhku di sini. Ia merasa dikhiananti olehku. Tapi ia berhasil di tembak mati oleh petugas penjara. Suamiku sudah mati!” kata sang wanita yang nyaris tersambar parang yang dimiliki oleh Barman sambil menyulut sebatang kretek dengan tenang.
Seorang lelaki datang menghampiri si wanita lalu mengajaknya pergi dari situ.

“Tolong temani aku malam ini, Karsih,” bisik si lelaki di telinga si wanita dengan lembut. Si wanita mengikut saja tanpa banyak bicara.

Cimahi, Mei 1996

Wednesday, May 25, 2005

Perempuan dalam Lukisan



Cerpen Nigar Pandrianto

Untuk ke sekian kalinya Bram kembali mengajak Iren untuk mengunjungi galeri Chitra. Tetapi kali ini Iren terpaksa menolak keinginan sumianya itu. Bukan karena Iren mulai malas melihat-lihat lukisan di galeri, tetapi karena ia tahu Bram punya maksud khusus datang ke galeri tersebut.

Iren tahu, Bram datang ke galeri Chitra karena ingin melihat sebuah lukisan yang dipajang di salah satu sudut galeri tersebut. Lukisan tersebut bergambar seorang perempuan muda yang tengah duduk di atas kursi di sebuah beranda dengan latar belakang langit sore keemasan. Wajahnya sangat cantik. Tatapannya sangat tajam dan penuh arti. Begitu setidaknya kesan yang ditangkap oleh Iren.

“Sebentar saja, Ren. Paling-paling hanya tiga puluh menit. Setelah itu aku akan antar kamu ke toko buku atau tempat lain yang kamu suka,” rayu Bram kepada Iren.

“Tidak! Kamu pasti mau melihat lukisan perempuan itu lagi, kan?” Iren menebak-nebak.

“Bukan!”

“Ah, mengaku saja. Tidak usah ditutup-tutupi!”

“Sumpah, tidak! Aku hanya mau melihat jadwal pameran saja.”

“Kamu kan bisa menelepon tanpa harus susah-susah datang ke sana.”

“Maksudku agar bisa mendapat keterangan yang lebih jelas.”

“Huh, alasan saja!”

Iren sudah mencium, Bram punya kesan yang sangat mendalam terhadap lukisan itu. Pernah suatu kali ia memergoki Bram mengamati lukisan tersebut dengan sangat serius. Lama sekali ia menatap lukisan itu, seakan-akan jiwanya tersedot habis ke dalamnya.

Lukisan itu sungguh-sungguh punya daya tarik yang luar biasa bagi Bram. Sekali melihatnya, perempuan di dalam lukisan itu langsung terpahat di lorong ingatannya. Padahal selain lukisan tersebut masih banyak lukisan lain di galeri itu yang sebenarnya lebih menarik dan lebih menantang untuk diamati. Sebagai wartawan kebudayaan, Bram harusnya lebih peka soal itu.

Iren sendiri heran, mengapa setiap kali mengunjungi galeri itu Bram selalu menyediakan waktu khusus untuk berdiri di depan lukisan itu dan rela diam puluhan menit untuk mengamatinya. Iren tidak habis pikir, apa yang sebenarnya menarik dari lukisan itu sehingga Bram bisa terpaku dengan tenang di depannya dalam waktu yang terbilang lama.

“Apa sih bagusnya lukisan itu? Apa karena ada perempuan cantik di situ?” tanya Iren suatu kali dengan nada cemburu.

“Bukan saoal cantik atau tidak cantik, tetapi karena keseluruhan lukisan itu memang menarik,” Bram menjawab tenang.

“Huh, lukisan seperti itu saja dibilang menarik. Mahasiswa jurusan seni rupa semester tiga saja bisa membuat lukisan yang lebih bagus.”

“Tetapi ini berbeda, Ren. Sangat berbeda!”

“Apanya yang berbeda?”

“Ekspresi dan emosi pelukisnya sangat kuat.”

“Kamu melebih-lebihkan saja. Bilang saja kamu tertarik kepada perempuan di dalam lukisan itu.”

Sebenarnya di dalam hati Iren mengakui, apa yang dikatakan oleh suaminya itu memang benar. Ia pun memiliki kesan dan penilaian yang sama. Tetapi meskipun begitu, Iren tidak bisa menerima kalau Bram punya kekaguman yang berlebihan terhadap sosok perempuan di lukisan tersebut. Iren tidak bisa menerima kalau suaminya tiba-tiba menjadi sangat terpesona dengan keindahan perempuan itu.

Iren tahu juga, dirinya akan ditertawakan jika orang lain tahu bahwa ia menyimpan cemburu pada seorang permpuan di dalam sebuah lukisan. Bagaimana mungkin seseorang menaruh cemburu pada sosok yang tidak nyata, sosok hasil rekaan dan bentukan imajinasi orang lain? Ini tidak bisa diterima oleh akal. Tetapi Iren benar-benar tidak bisa membuang perasaan itu.

“O, kamu cemburu ya? Mengaku saja!” goda Bram kepada istrinya.

“Ngapain aku cemburu?” Iren berkata ketus.

“Lha itu buktinya, tiba-tiba jadi ngambek begitu?”

“Ah, kamu memang sok tahu!” Iren mencoba untuk tidak memperpanjang perdebatan.

Hingga kini Iren tidak pernah tahu pasti apa yang membuat Bram begitu terpikat dengan lukisan itu. Apakah karena lukisan itu sendiri, atau justru karena pelukisnya. Siapakah pelukisnya? Lelaki atau perempuan? Jika perempuan, apakah Bram mempunyai hubungan dengannya? Lalu, di mana ia berada sekarang? Pikiran-pikiran itu merayapi pikiran Iren.

Untuk mengetahuinya pernah diam-diam Iren menanyakan hal tersebut kepada pemilik galeri. Tetapi sayang, pemilik galeri tidak tahu persis siapa yang membuat lukisan tersebut. Ia hanya mengetahui kalau lukisan itu dibeli dari seorang kolektor tiga tahun yang lalu. Sayangnya hingga kini lukisan itu tidak pernah terjual.

“Siapa kolektor yang menjual lukisan ini?” tanya Iren kepada si pemilik galeri.

“Saya sendiri lupa. Soalnya udah lama sekali. Lagi pula waktu itu saya belum sepenuhnya mengurus galeri ini,” jawab pemilik galeri. Tidak lama kemudian ia masuk ke dalam setelah berjanji akan kembali untuk membawa catatan kolektor yang menjual lukisan ke galerinya.

Tidak lama kemudian ia keluar dengan sebuah buku catatatan. “Pemilik sebelumnya Yap Seng Hok. Menurut alamat yang ada di catatan ini, ia tinggal di Jalan Bendungan III, nomor 16. Saya tidak tahu apakah ia masih tinggal di sana atau sudah pindah,” katanya. “Coba saja temui dia di sana.”

Beberapa hari kemudian Iren mencoba mendatangi alamat tersebut. Alamat yang ditujunya ternyata sebuah rumah yang cukup besar. Di sana ia bertemu dengan Goat Hiong yang ternyata anak perempuan tunggal Yap Seng Hok. Dari perempuan itulah Iren tahu kalau ayahnya sudah setahun meninggal dunia.

Ketika Goat Hiong ditanya soal lukisan, ia tidak bisa memberikan banyak keterangan, sebab ia sendiri tidak terlalu banyak tahu soal lukisan yang dimiliki ayahnya. Ia hanya mengatahui sebelum meninggal ayahnya banyak menjual lukisan koleksinya. Ketika itu ayahnya memang butuh biaya untuk berobat di luar negeri. Ia pun tidak pernah tahu dengan jelas ke mana saja lukisan-lukisan itu dijual.

Sekarang di rumah itu hanya tinggal beberapa lukisan saja yang masih ada. Beberapa di antaranya merupakan karya peluksi terkenal. Goat Hiong dengan senang hati menunjukkan lukisan-lukisan tersebut kepada Iren. Dengan basa-basi Iren mencoba menawar salah satu lukisan yang ada di situ. Tetapi Goat Hiong tidak mau menjualnya.

Sejak itu pencarian Iren berhenti. Namun rasa keingintahuannya terus mendesak. Ada apa dengan lukisan di galeri itu? Siapa sebenarnya perempuan yang ada di dalamnya? Apakah Bram memiliki hubungan dengan perempuan itu? Semua pertanyaan itu berputar-putar di kepala Iren.

Suatu sore, setibanya di rumah sepulang kantor, Iren terkejut bukan main. Kepalanya terasa seperti dipukul. Hatinya bergetar. Kesal, cemburu, takut, marah bercampur dengan kengerian menjadi satu melesak ke dalam kepalanya.

Bagaimana tidak, lukisan perempuan yang beberapa waktu lalu masih berada di dinding galeri Chitra, saat itu sudah berpindah di ruang tamunya. Di saat yang sama ia melihat Bram tengah asyik memandangi lukisan itu dengan penuh ketakjuban.

Namun demikian Iren berusaha menyembunyikan kekacauan yang bergejolak di hatinya. Ia berusaha meredam kegeramannya. Ia berusaha agar tidak meledak saat itu.

“Akhirnya aku memutusakan untuk membeli lukisan itu, Ren,” kata Bram tenang ketika melihat Iren sudah berada di ruang tamu, “kubeli dengan harga murah.”

Iren tidak bisa berkata apa-apa. Lukisan yang selama ini menjadi sumber kegalauan hatinya kini sudah berada di rumahnya. Ia merasa ada ancaman yang langsung menyerang pusat pertahanan keluarganya. Hal ini jelas membuat hatin Iren semakin meradang. Ia tidak pernah berpikir kalau Bram akan memutuskan untuk membeli likisan itu.
Iren tidak tahu berapa banyak uang yang dikeluarkan Bram untuk membeli lukisan itu. Ratusan ribu, jutaan, atau puluhan juta rupiah, Iren tidak mau ambil peduli. Yang jelas, Iren tidak suka lukisan itu berada di rumahnya.

Sebentar Iren menyempatkan diri untuk memandang perempuan dalam lukisan yang kini sudah dianggapnya sebagai musuh utama. Mata perempuan itu seakan-akan sedang menatap Iren dengan wajah penuh kemenangan. Ia seolah-olah tengah mengejek Iren yang tidak bisa mencegah kehadirannya di rumah itu. Perempuan itu seperti mengatakan bahwa dirinya telah berhasil merebut Bram dari sisi Iren.
Iren benar-benar geram. Ingin rasanya ia menurunkan dan menyobek lukisan itu dengan pisau. Ia ingin sekali menghancurkan lukisan itu tanpa ampun. Bahkan jika mungkin ia ingin membakarnya menjadi abu. Tetapi Iren tidak bisa melakuannya.

Malamnya Iren terdiam. Ia enggan berbicara dengan Bram. Tetapi Bram justru tidak menangkap aksi protes yang sengaja dilancarkan Iren. Malahan, hingga dini hari Bram masih terdiam di ruang tamu mengagumi lukisan yang baru saja dibelinya itu.

Hari-hari berikutnya keadan makin menyebalkan buat Iren. Belakangan ia sering memergoki Bram meninggalkan tempat tidur di malam hari. Kemudian dengan langkah perlahan, seakan tidak mau terdengar oleh istrinya, Bram berjalan menuruni tangga menuju ruang tamu. Di sana Bram duduk di sofa sambil menikmati lukisan yang dibelinya.
Terang saja kejengkelan Iren makin menggunung. Dengan jengkel ia bertanya kepada Bram untuk apa ia meninggalkan kamar tidur di malam hari. Tetapi jawaban Bram sederhana saja, ia sering merasa kegerahan tidur di dalam kamar. Itu sebabnya ia sering mencoba tidur di sofa dengan harapan bisa lebih nyenyak dan nyaman beristirahat.
Iren jelas-jelas tidak bisa menerima alasan Bram tersebut. Baginya alasan Bram terlalu mengada-ada, terlalu dibuat-buat. Sebab sebenarnya Bram bisa menyalakan AC di dalam kamar bila merasa kegerahan. Jadi tidak perlu meninggalkan kamar secara diam-diam seperti itu

“Tapi dingin AC tidak alami! Malah bisa bikin masuk angin,” Bram mengemukakan alasannya.

“Lho, kok tiba-tiba pakai alasan masuk angin segala? Biasanya pakai AC setiap malam juga nggak apa-apa?” Iren tidak puas dengan jawaban Bram.

“Tapi kenyataannya sekarang aku masuk angin kok kalau pakai AC malam hari.”

“Nggak usah banyak alasan! Bilang saja kamu ingin melihat lukisan perempuan di ruang tamu. Iya, kan?”

“Jangan ngawur!”

“Sudahlah, terus terang saja.”

“Kamu kok jadi ngaco sih?”

“Tidak usah ditutup-tutupi! Bilang saja kamu jatuh cinta kepada wanita dalam lukisan itu!”

Mata Iren mulai berkaca-kaca. Kekesalannya benar-benar memuncak.
“Sekarang jawab pertanyaanku! Siapa sebenarnya wanita dalam lukisan itu? Apa hubunganmu dengan dengan lukisan brengsek itu? Ayo jawab!”
Bram menghela nafas tanpa memberi jawaban.

“Kalau kamu tidak mau menjawab, aku akan pergi dari rumah ini malam ini juga!” Iren mengancam.

Diancam seperti itu hati Bram tersentak. Seingat Bram belum pernah Iren melontarkan kata-kata semacam itu.

“Aku tidak punya hubungan apa-apa dengan lukisan itu, Ren,” Bram mencoba meredam Iren.

“Tetapi kamu selalu memandang lukisan itu dengan kekaguman yang berlebihan.”

“Itu kan wajar. Kamu juga seorang pengagum lukisan, bukan?”

“Tetapi kekagumanmu tidak wajar! Kamu memang keterlaluan! Tidak mengerti perasaan orang lain!” Iren meluapkan kejengkelan yang selama ini dipendamnya.

Malam itu Iren menangis hingga menjelang pagi. Bram sendiri tidak bisa tidur setelah keributan itu. Hingga keesoknya Bram dan Iren tidak saling bicara. Sebenarnya Bram sudah mencoba untuk mencairkan suasana. Tetapi Iren belum bisa menerimanya. Kejengkelan Iren masih belum reda.

***

Beberapa waktu kemudian Iren berinisiatif untuk memindahkan lukisan yang dibencinya itu dari ruang tamu ke ruang makan. Ia meminta Pak Dar, tukang kebunnya, untuk membantu memindahkan lukisan itu. Alasan Iren untuk memindahkannya sederhana, ia mengangap senyum perempuan di dalam lukisan itu terlalu culas untuk menghiasi ruang tamunya.

Mulanya Iren sedikit lega karena lukisan itu sudah tidak berada di ruang tamunya lagi. Tetapi tiba-tiba pikiran Iren berubah lagi. Menurutnya wajah perempuan itu justru akan merusak selera makanya jika berada di ruang makan. Iren tidak mau perempuan itu dengan seenaknya memperhatikan gerak-gerik Iren selama berada di ruang makan. Hal ini tentu lebih menjengkelkan.

Itu sebabnya Iren kembali meminta Pak Dar untuk memindahkan lukisan itu. Kali ini lukisan itu dipindahkannya ke ruang baca yang sekaligus menjadi tempat kerja Bram. Mungkin dengan cara begitu Iren akan semakin jarang melihat wajah perempuan itu.

Tetapi itu pun tidak lama, Iren berubah pikiran lagi. Dalam benak Iren keberadaan lukisan itu di ruang baca justru akan membuat Bram lebih bebas untuk memandanginya sambil menyelesaikan tulisan-tulisannya. Itu berarti Bram akan semakin sering dan betah berada di ruang baca. Ini bisa lebih berbahaya.

Kini Iren tidak tahu lagi harus berbuat apa dengan lukisan yang dibencinya itu. Ia harus menyingkirkannya jauh-jauh. Ia ingin benda itu benar-benar enyah dari pandangannya.

Setelah agak lama menimbang-nimbang Iren akhirnya memutuskan untuk menyimpan lukisan itu di dalam gudang. Menurutnya gudang adalah tempat yang tepat buat benda itu. Pak Dar pun segera memindahkannya ke dalam gudang.

Namun ternyata keputusan Iren itu justru menyulut keributan lain. Ketika Bram kembali ke rumah dan tidak mendapati lukisan itu berada di tempatnya, ia menjadi marah. Kemarahannya bertambah ketika mengetahui benda itu telah berpindah gudang, bersatu dengan benda-benda rongsokan penuh debu. Bram pun tahu kepada siapa ia harus menimpakan kekesalannya. Ketegangan pun tidak bisa dihindari.

“Kamu seperti tidak tahu seni saja! Masak lukisan seperti ini kamu simpan di gudang!” serang Bram setelah bersusah-payah mengeluarkan lukisan itu dari dalam gudang.

“Tapi itu karena kamu juga!” Iren tidak mau kalah.

“Karena aku bagaimana?”

“Karena kamu jatuh cinta kepada perempuan dalam lukisan busuk itu!”

“Tapi itu tidak benar! Kamu berlebihan! Tidak berpikiran jernih! Kamu kekanak-kanakan!”

“Kamu yang tidak berpikiran jernih! Buat apa memelihara barang jelek seperti itu!”

“Apa? Ini barang jelek katamu? Dasar tidak tahu seni!”

“Kamu brengsek!”

“Kamu kampungan!”

“Terserah! Pokoknya aku tidak mau wajah jelek perempuan itu berada di rumah ini! Titik! Malam ini juga ia harus lenyap dari rumah ini selama-lamanya!”

Emosi Bram benar-benar meledak dan menghancurkan barisan terakhir kesabarannya. “Baik kalau memang itu yang kamu inginkan!” kata Bram tiba-tiba.

Setelah berkata demkian Bram memanggil Pak Dar. Ia meminta Pak Dar untuk membawa lukisan itu ke halaman depan rumah dan membakarnya di sana. Dengan penuh ketidak mengertian lelaki itu menjalankan perintah majikannya.

Bram dan Iren menyaksikan sendiri bagaimana Pak Dar menyiramkan minyak tanah ke atas lukisan itu dan mulai mulai menyulutnya dengan korek api. Dalam sekejap api melahapnya habis. Hanya sisa pigura hangus yang menyisa. Kini lukisan itu sudah hilang, beersama dengan perempuan di dalamnya.

Hari-hari berikutnya memang tidak terjadi lagi keributan yang mempersoalkan lukisan itu. Semuanya kembali berjalan normal. Tetapi diam-diam Iren selalu bertanya-tanya di dalam hati, apakah sekarang Bram masih memikirkan lukisan itu? Apakah Bram masih mengenang-ngenang wajah perempuan di dalamnya? Apakah Bram selalu membayangkan wajah perempuan itu setiap kali bercinta dengan Iren? Siapakah dia sebenarnya? Pertanyaan-pertanyaan itu terus memburu Iren hingga kini tanpa pernah ada jawaban.
------

Posted by Hello

TERJEBAK



Cerita Pendek Nigar Pandrianto

Tiba-tiba saja lift yang mereka tumpangi terhenti, tepat diantara lantai dua puluh lima dan du puluh enam. Listrik mati. Lampu dalam lift meredup. Bob dan Susi panik. Bob mencoba menekan-nekan tombol lift, tetapi tidak ada reaksi, lift tetap saja tidak bergerak. Mereka terjebak!

“Matilah aku,” begitu pikir Bob.

Sesaat Bob dan Susi terdiam. Mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan. Baru kali ini mereka mengalami kemacetan lift seperti itu. Susi sendiri tidak pernah membayangkan dirinya bakal terjebak didalam lift.

“Mungkin ini saat kematianku,” begitu pikir Susi. Ia sering mendengar orang yang mati lemas kekurangan oksigen ketika lift yang ditumpangi macet. Ia juga pernah mendengar tentang tali lift yang tiba-tiba putus dan menewaskan siapa saja yang ada di dalamnya. Kini ia sendiri yang mengalaminya.

“Mungkin listrik mati. Tunggu saja sebentar,” Bob mencoba menenangkan. Susi tidak menanggapi. Ia masih diliputi kecemasan. Sesekali ia mencoba menekan-nekan tombol lift. Tetapi percuma saja, lift tidak juga mau bergerak.

Beberapa puluh menit berlalu. Tidak ada juga perubahan. Lampu lift bertenaga baterai meredup. Kepengapan mulai terasa. Keringat mulai menetes dari dahi Bob dan Susi. Diam-diam Bob menyimpan kecemasan juga. Ia khawatir malam itu telah terjadi huru-hara, dan gedung dimana lift itu berada tengah dibakar massa. Jika itu benar, tamat sudah riwayatnya! Bob sama sekali tidak pernah mengira kalau malam ini adalah malam terakhir baginya. Antara percaya dan tidak, saat ini ia ditengah berhadapan dengan maut.

Masih belum luntur dari ingatan Bob, beberapa waktu lalu kotanya dilanda kerusuhan yang akhirnya menghanguskan ratusan gedung perkantoran. Bob membayangkan, saat itu ratusan orang terjebak di dalam lift dan akhirnya mati terpanggang di dalamnya. Kini peristiwa yang sama justru menimpanya. Ketakutan-ketakutan mulai mengaliri darah Bob. Nyalinya menjadi kerdil, seperti mendapat tekanan yang tidak terkendalikan. Bob sendiri hampir tidak bisa menahannya.
Bob dan Susi terdiam, Mereka tidak mendengar suara apa-apa di luar. Yang terdengar hanya desah napas mereka berdua. Semua begitu cepat berlalu, seperti senja yang memburu malam. Masih belum lenyap dari ingatan keduanya, beberapa saat yang lalu mereka berbicara tentang cinta di sebuah pub. Tapi, sekarang semua tidak ada artinya, mereka tengah diburu kematian. Ya, cinta tinggal kata-kata.

“Kita akan mati di sini, Bob,” ujar Susi setengah berbisik menyentak lamunan Bob.

“Mungkin,” Bob berkata tanpa menoleh. Ia masih mencium atmosfer kemastian yang membayanginya. “Jangan terlalu cemas. Jika memang listrik mati, regu penolong akan segera menyelamatkan kita.”

Tiba-tiba ingatan Bob terlempar pada Deti, istrinya.Wanita yang manis dan cerdas. Bob mengakui, hanya Deti yang bisa memperlakukan dirinya sebagaimana mestinya. Hanya Deti yang sanggup memberinya cinta sejati. Namun, Bob sendiri tidak memahami mengapa kini ia tertarik pada Susi, seorang account executive suatu biro iklan ternama.
Bob juga mengakui, Susi cantik dan pandai bergaul. Mungkin itu yang membuat Bob selalu ingin menemui Susi. Seperti malam ini, ia masih menyempatkan diri untuk menikmati kecantikan Susi.

Masih jelas dalam ingatan Bob ketika untuk pertama kalinya ia bertemu Susi. Saat itu mereka duduk berhadapan di dalam kereta api kelas eksekutif. Bob menangkap bayangan wajah Susi yang terpantul di kaca jendela kereta. Ya, jendela kereta yang membingkai senja, yang jatuh di antara pegunungan. Bayangan Susi jelas di situ. Bahkan ketika hujan turun, pantulan wajah Susi tetap ada di situ. Bob pun memberanikan diri untuk berkenalan dengan Susi. Sejak itu hubungan mereka terus berlanjut. Mulanya hanya sesekali lewat telepon di saat senggang, tapi kemudian mereka memutuskan untuk bertemu langsung.

Kini Bob terjebak dalam lift bersama Susi. Bob berpikir, mungkin pada saat yang sama Deti tengah menantikan dirinya di rumah. Atau menelepon kesana kemari mencari-carinya. Ya, barangkali Deti telah kelelahan mencari Bob, dari satu sepi ke sepi lainnya, dari kesedihan yang satu kesedihan lain. Deti telah kelelahan menemukan kembali hati Bob.

“Aku telah mengkhianati Deti. Aku telah berdosa,” kata Bob tiba-tiba.
Susi agak terperanjat. Ia tidak menyangka kalau Bob mengatakan hal itu. Baru kali ini ia tahu kalau Bob masih mencintai istrinya. Selama ini Bob selalu mengatakan hanya Susilah satu-satunya wanita impiannya.
Susi ingin melampiaskan kekesalannya. Tetapi, di ambang kematian seperti saat ini, Susi tidak bisa berbuat lebih jauh. Ia hanya ingin lepas dari musibah kematian yang tengah berjingkat mendekatinya.

Diam-diam ingatan Susi memburu kepada Gun, suaminya yang ia nikahi tiga tahun lalu. Meski belakangan ini Susi selalu merasakan Gun tidak lagi menperhatikannya, Susi masih tetap mencintainya. Bagi Susi hanya Gun yang sanggup memberikan kehangatan cinta. Susi sendiri tidak mengerti, mengapa kemudian dirinya bisa menerima kehadiran Bob, seorang supervisor perusahaan otomotif besar. Padahal, ia tahu benar Bob telah beristri.

“Ya, aku pun telah berbuat tidak adil kepada Gun. Aku telah menyia-nyiakan kepercayaannya kepadaku,” ujar Susi kemudian. Bob nyaris tidak percaya kalau akhirnya Susi mengatakan hal itu. Seperti dirinya, selama ini Susi selalu berkata hanya Bob lelaki yang ia inginkan, hanya Bob lelaki yang ia dambakan. Tapi, kali ini Susi berkata lain. Ketika ajal terasa sudah selangkah didepan, semuanya jadi berbalik. “Maafkan aku, Gun,” desah Susi dalam hati.

“Jika kita mati sekarang kita akan meninggalkan kesalahan besar,” ujar Bob.

“Ya, kita telah melakukan kesalahan besar,” bisik Susi.

Udara di dalam lift semakin sesak. Keringat membasahi kemeja Bob. Lampu bertenaga baterai dalam lift sudah hampir mati. Waktu yang bergerak seperti mulai mencekik mereka perlahan-lahan. Bob dan Susi terduduk di lantai lift. Kini mereka seperti menghadapi tuduhan-tuduhan waktu. Keduanya sudah memastikan akan segera menghadapi maut.

Berkali-kali Susi menyesali dirinya kenapa harus menerima kehadiran Bob, Ia memaki dirinya sendiri karena telah menjadi seorang yang paling bodoh dengan menerima rayuan laki-laki itu. Susi telah bermain api!

“Aku memang perempuan murahan. Perempuan tidak setia, pengkhianat! Aku tidak mau mati meninggalkan dosa. Seandainya aku selamat, aku akan kembali kepadamu, Gun,” Susi membatin.

“Jika aku selamat, aku akan kembali kepada Gun,” kata Susi lirih.

“Kamu rela kalau aku kembali kepadanya, Bob?”

“Jika itu menurutmu hal yang terbaik, kau harus melakukannya,” jawaban Bob terdengar tanpa disangka-sangka oleh Susi. “Aku pun mungkin akan melakukan hal yang sama,” tambahnya.

“Maksudmu?”

“Jika malam ini kita selamat, aku akan kembali kepada Deti.”
Setelah itu keduanya terdiam kembali. Lampu dalam lift benar-benar mati. Sebelumnya Bob sempat melihat wajah pucat Susi dengan keringat mengalir di dahinya. Susi sudah lemas.

“Kita harus mengakhiri semua ini, Susi,” kata-kata Bob nyaris tidak terdengar.

“Ya,” jawaban Susi pendek saja.

“Kita harus memohon ampun kepada Tuhan karena telah mengkhianati perkawinan kita masing-masing.”

“Ya.”

“Jika kita mati setidaknya kita akan meninggalkan dosa ini.”

“Ya, Bob.”

Lift tidak juga menujukan tanda-tanda akan bergerak.

“Aku bersumpah akan bersungguh-sungguh mencintai Deti jika malam ini selamat,” gumam Bob.

Susi tidak jauh berbeda. “Aku bertobat. Jika malam ini aku lolos dari panggilan maut, aku akan kembali mencintai Gun sepenuh hati. Aku tidak akan menyia-nyiakan cinta Gun,” bisik Susi dalam hati, minta ampun kepada Tuhan atas segala kesalahanya.

“Ampuni dosaku, Tuhan, “ pinta Bob dalam hatinya.
Tiba-tiba lampu dalam lift terang kembali. Lift mulai terasa bergerak. Hembusan udara dingin dari AC kembali mengalir memenuhi ruangan yang semula pengap. Awalnya Bob dan Susi tidak percaya kalau lift itu bergerak. Tetapi, lift benar-benar bergerak ke bawah. Bob dan Susi yang tadinya sudah merasa di ambang kematian masih belum percaya ketika lift meluncur turun. Malah keduanya sempat berpikir itulah saat malaikat maut menjemput mereka!

Dalam beberapa saat saja lift sudah sampai di lantai paling bawah. Begitu pintu lift terbuka Bob dan Susi disambut beberapa orang di muka pintu lift. Mereka langsung menyerbu masuk ke dalam untuk memberi pertolongan. Rupanya sudah sejak tadi mereka menunggu lift itu turun. Mereka tahu, ada orang yang terjebak di dalam lift ketika listrik mati selama beberapa saat.

***

Sore itu Bob berada di dalam ruang kerjanya. Tiba-tiba telepon di mejanya berdering. Bob segera menyambar gagang telepon. Seperti sudah hafal dan tahu benar siapa yang tengah meneleponnya, Bob langsung menjawab, “Halo, sayang, dimana kita ketemu malam ini?”

“Di tempat biasa,” suara dari seberang sana terdengar. Suara merdu Susi!

“Baiklah, saya segera meluncur kesana.”

“Bagaimana dengan isterimu?”

“Deti? Nanti biar aku bilang kalau aku ada pertemuan dengan klien. Aku langsung menjemputmu, ya?”

Beberapa saat saja Bob dan Susi sudah berada di sebuah gedung. Tujuan mereka tak lain adalah pub yang biasa meniupkan musik jazz kegemaran mereka. Tetapi, baru beberapa lantai mereka lewati, tiba- tiba lift terhenti. Lampu dalam lift meredup. Di luar tidak terdengar apa- apa.

Semula Bob dan Susi tidak terlalui panik. Sebab mereka yakin, sesaat lagi lift akan bergerak kembali.Tapi saying, tiga jam kemudian lift tidak juga bergerak. Bob dan Susi semakin sulit bernafas.

“Tunggu saja, paling listrik mati, sebentar lagi pasti jalan,” ujar Bob tenang meski dadanya sudah semakin sesak. Tetapi, lama-kelamaan, kecemasan semakin gencar menyerang. Bob dan Susi tidak tahan lagi. Udara kematian mulai tercium. Saat itu juga isi kepala mereka teringat kepada pasangannya masing-masing. Bob teringat Deti. Sementara itu bayangan Gun menyeruak di kepala Susi.

“Jika malam ini aku selamat, aku akan benar-benar kembali kepada Deti. Tuhan selamatkan aku,” Begitu gemuruh hati Bob.

Demikian pula dengan Susi, “Biarkan kali ini aku selamat, Tuhan. Aku akan benar- benar kembali kepada Gun. Sungguh!” Susi berdoa, memohon dilepaskan dari ancaman maut. Tetapi lift tidak juga bergerak.

Thursday, May 19, 2005


Tak ada kabar hari ini, dari kesepian yang telah lama pergi. Tak ada kartu pos bulan ini dari pecahan kenangan yang pergi bertahun-tahun lalu. Tak ada telepon malam ini dari kekasih yang kucinta berabad-abad lalu. Posted by Hello