Friday, January 27, 2006

Hujan Pagi Hari



Tak ada secangkir kopi pagi ini
Ah, sebuah pembunuhan terhadap kopi
Dan juga radio

Ucapan perjumpaan semalam
Bermuara pada puntung-puntung rokok
Dan pada kata yang berserak di ujung jendela
Basah oleh hujan dan air mata

Kaca-kaca yang menikam kota
Hampir tak terlihat

Hujan yang berkirim kabar
Tak meninggalkan berita
Bahkan tentang ayah yang memerkosa anaknya

Gerimis yang memisau pagi
Tak menyisakan apa-apa

Kakiku basah…
Kakimu juga?

Kebon Jeruk. 27 Januari 2006

Pagi yang Bisu



Pagi yang bisu
Antara aku dan kau
Kata-kata yang menggigil pun kau tutup rapat-rapat

Seperti tak ada perjumpaan
Waktu seperti berkubang
Menjadi gumpalan yang tak menentu

Kita seperti tak ada
Lenyap

Kini kau boleh hunuskan pedang itu

Pagi, 27 Januari 2006

Tuesday, January 24, 2006


Ketika kami bersiap meninggalkan Yogyakarta (22/01/06). Ada kesedihan karena harus meninggalkan kota yang penuh kenangan itu. Tetapi kami harus kembali ke Jakarta. Ah, wanita itu pun menyisakan lipatan kecil dalam halaman-halaman memoriku... Sesekali ia kulirik, menyapu wajah dan bagian-bagian indah lain dari tubuhnya. Ah, semoga aku tak jatuh cinta padanya..... Sampai jumpa...... Posted by Picasa

Monday, January 23, 2006


Beginilah sepeda atau "onthel" dijejerkan oleh para penggila onthel di alun-alun selatan Keraton Yogyakarta. Mereka tergabung dalam JOC, Jogja Onthel Community. Malam itu, 21 Januari 2006, mereka mengadakan acara inisiasi bagi para anggota baru. Para anggota baru tersebut diminta untuk menuntun sepeda berkeliling alun-alun. Tentu saja ini menjadi tontonan menarik bagi mereka yang menghabiskan waktu akhir pekan di tempat tersebut.
 Posted by Picasa
TRIXIE PAVELA, kenangan ketika kami menghabiskan waktu menikmati Braga Festival, Bandung, di penghujung 2005.
 Posted by Picasa
Trixie Pavela, dari trotoar sepanjang BRAGA Posted by Picasa

Catatan Perjalanan 55001


Dua hari lalu (20/01/06) saya secara sengaja memenuhi keinginan hati untuk berangkat menuju Yogyakarta. Lalu dengan serombongan kawan lain kami berangkat menuju kota yang memiliki banyak sejarah itu.

Perjalanan cukup menegangkan, pasalnya pengemudi mobil yang saya tumpangi kelewat percaya diri. Hasilnya, mobil tak pernah melesat di bawah 80 kilometer per jam. Tikungan tajam, aspal berlubang, dan jalanan gelap sepanjang jalur selatan disikat habis. Bus dan truk gandeng pun disalip dengan mudah. Saya rasa, pengemudi itu sudah hafal benar setiap jengkal jalan di jalur berliku dan berbahaya itu.

Angin di celana dalam
Kami tiba di Yogyakarta pukul 05.30. Artinya sebelas jam kami telah menempuh perjalanan. Tentu saja dengan beberapa kali istirahat, baik untuk mengisi perut dengan minuman dan makanan panas, atau sekadar buang air kecil.



Aktivitas yang terakhir ini bisa dilakukan di stasiun pengisian bensin umum, atau di semak belukar tepi jalan. Ah, mengasyikan rasanya mempertontonkan bagian rahasia kami kepada gelap, sementara angin malam menyelusup di sela celana dalam. Menyegarkan!

Untuk mempersingkat cerita, beberapa kegiatan yang tak begitu penting, tidak saya ceritakan di sini.

Berburu buku
Lalu pada pukul 14.30 kami sudah berada di Malioboro. Di jalan yang sangat terkenal ini, tampak lalu lintas yang sangat padat. Meski telah dibuat satu arah, toh kemacetan tetap saja terjadi.


Bau bacin di beberapa sudut jalan tetap tercium. Namun itu tetap saja tidak melunturkan minat saya untuk selalu mengunjungi kota ini.

Di Malioboro saya dan beberapa teman sengaja memisahkan diri. Tentu karena kami memiliki kepentingan yang berbeda-beda. Saya sendiri langsung berjalan kaki menuju shoping.

Shoping yang saya kenal adalah kawasan penjualan buku yang sangat terkenal. Bukan hanya karena potongan harga yang sangat besar (kira-kira 30%), tetapi juga di tempat inilah saya menemukan buku-buku berharga yang langka.

Di shoping saya berjalan menyusuri lantai satu, dan kemudian naik dan berjalan di sejumlah lorong di lantai dua. Di salah satu lorong inilah saya singgah di sebuah kios buku.

Buku langka
Satu hal yang membuat saya tertarik untuk singgah ialah, kios tersebut menjual sejumlah buku tua. Salah satu buku yang dipampang di situ adalah 200 TAHUN YOGYAKARTA. Buku yang terbit tahun 1956 ini berisi kisah mengenai Yogyakarta dan perkembangan di berbagai bidang yang telah dicapai oleh kota tersebut. Mengenai isi buku ini akan saya kisahkan pada kesempatan lain.




Buku lain yang menyedot minat saya adalah SEJARAH SASTERA MELAYU yang terbit di tahun 1951. Buku berisi sejarah dunia sastra Indonesia di masa lalu. Mengenai buku ini, akan kukisahkan juga pada kesempatan lain.

Setelah melakukan tawar-menawar saya putuskan untuk membawa pulang kedua buku tua tersebut. Sebelumnya, dengan kesopanan a la Yogyakarta, si penjual buku (yang belakangan kuketahui bernama Pak Totok) memesankan aku segelas kopi susu. Kami pun bicara soal buku tua sambil menghirupnya dan menikmati beberapa batang kretek.

Buku lain
Tak puas dengan yang sudah kudapat, kembali saya geledah lantai dua pusat penjualan buku yang terletak di belakang Pasar Beringharjo itu. Ah, sebuah kios menarik perhatian saya. Di situ di jual sejumlah buku lama karangan Emha Ainun Nadjib.

Dengan potongan harga 30%, kuambil DUA buah judul bukunya yang ada di kios itu. Buku tersebut adalah: INDONESIA ADALAH BAGIAN DARI DESA SAYA dan SESOBEK BUKU HARIAN INDONESIA. Satu buku lain yang saya beli adalah PODIUM karangan AS Laksana, kumpulan kolom AS Laksana di tabloid Detik.

Setelah kudapat semuanya, saya bergegas kembali ke tempat kami tadi berpisah. Pasalnya kami sudah sepakat untuk kembali di tempat yang sama, dua jam setelah kami berpisah di awal tadi.

Kelak aku akan kembali ke tempat ini. Pasti!


22/01/06

Senja di atas Majenang



Senja jatuh di atas Majenang
di antara pinus, jati dan belukar
sisa hujan menjingga di atas aspal
ditimpa matahari yang berpulang

Petani berjalan di atas langit
Pepohonan melambaikan perpisahan

Majenang-Tasikmalaya, 22 Januari 2006

MEMO-MEMO MASA LALU



Aku membongkar masa lalu
di antara tikungan dan sudut-sudut Yogyakarta
Serasa ada yang hilang tapi entah apa
Kucoba membuka jengkal demi masa lampau, tapi tak ada jawaban
Kenangan baru kupulaskan kembali tentang kota ini
berharap masih ada catatan yang tersisa untuk beribu tahun kemudian
Janti, 22 Januari 2006

Friday, January 20, 2006



Keroncong Eksistensia


Ah,
Siapakah yang semalam telah menggumuliku
Mengerang dengan mata setengah terpejam
Lalu tergolek setengah tertidur
Dan menceracau tentang istrinya
Yang digauli kawannya sendiri

Ah,
Siapkah yang semalam telah menggumuliku
Berteriak-teriak sambil menyembut nama seorang perempuan
Lalu merokok di atas tempat tidur
Kemudian berbicara mengenai banjir yang mungkin melanda Jakarta
Tak mungkin dicegah, katanya

Ah,
Siapakah yang semalam telah menggumuliku
Menahan nafas dan mengejat lalu melumat bibirku
Lalu berdiri sambil berkacak pinggang
Kemudian bicara soal kapitalisme dan Karl Marx

Ah,
Siapakah yang semalam telah menggumuliku
Yang menekan tubuhnya dengan kuat hingga aku sulit bernafas
Lalu duduk sambil menyeka keringat
Dan bicara tentag puisi gelap dan sastra kontekstual

Ah,
Siapakah yang semalam telah menggumuliku
Yang mengerang kelelahan karena tak kunjung ejakulasi
Lalu berdiri dan berpidato tentang bahaya pelacuran
Berbahaya untuk generasi muda, serunya

Ah,
Siapakah yang semalam telah menggumuliki
Dan mencapai orgasme dalam sekejap
Lalu berang karena lupa menelan obat kuat
Setelah itu duduk dan bicara soal kitab suci dan para nabi

Ah, siapkah dia?
Lalu siapakah aku?


Kebon jeruk, 20 Januari 2006
 Posted by Picasa

Wednesday, January 11, 2006


Pagi dan Zombie

Pagi yang menakutkan
Kabut beradu dengan ketidapastian
Mimpi semalam menjadi zombie
Menyeretku pada regangan nafas yang hampir terhenti
Inikah saatnya mengakhiri kegelisahan?
Inikah saatnya menyongsong keabadian?

Siapa ada di sana?

Kebon Jeruk, 11 Januari 2005
 Posted by Picasa

Wednesday, January 04, 2006


John Lightning serial kalender Coca-cola, Ditemukan di Bandung pada November 2005. Oke banget!!! Langka! Posted by Picasa

Hasil perburuan di Bandung! Susah ditemukan karena langka. Buatan Inggris. Serial Ruppert. Untuk sementara ini tidak dijual! Enjoy! Posted by Picasa

This is another pictures of TRIXIE PAVELA Posted by Picasa

Namanya Trixie Pavela. Seorang keponakan yang lucu. Hei, aku yang memberi nama belakangnya itu. Kuambil dari tokoh Pavel dalam novel Maxim Gorky berjudul "Ibunda" yang diterjemahkan oleh Pramoedya Ananta Toer. Posted by Picasa