Monday, January 31, 2005
Friday, January 28, 2005
Thursday, January 27, 2005
Kereta yang Bergerak
Kereta bergerak, seperti bait-bait puisi yang bergerak sepanjang rel kematian
Tak ada yang tertahan ketika peluitnya memanggil
Tak ada perhentian, hanya perjalanan panjang tanpa akhir
Tak ada ketegangan, hanya kelegaan tiada tepi
Tak ada pertemuan, hanya perpisahan yang tidak dimengerti
Tak ada perjumpaan, hanya lambaian tangan dan air mata
Seperti menuju alam baka
Palmerah, 27 Januari 2005
Chairil Anwar, picture: uknown
Tak ada yang tertahan ketika peluitnya memanggil
Tak ada perhentian, hanya perjalanan panjang tanpa akhir
Tak ada ketegangan, hanya kelegaan tiada tepi
Tak ada pertemuan, hanya perpisahan yang tidak dimengerti
Tak ada perjumpaan, hanya lambaian tangan dan air mata
Seperti menuju alam baka
Palmerah, 27 Januari 2005
Chairil Anwar, picture: uknown
Wednesday, January 26, 2005
Catatan Semalam
Semalam tak ada puisi
Semalam hanya terpekur merenungi Hindia Belanda di masa lalu
hingga fajar mengetuk jendela
Semalam hanya ini yang kudapat
tanpa catatan
Semalam hanya terpekur merenungi Hindia Belanda di masa lalu
hingga fajar mengetuk jendela
Semalam hanya ini yang kudapat
tanpa catatan
Monday, January 24, 2005
Jakarta dan Duka
Jakarta menjadi sebuah pertanyaan
yang perlahan memisau jiwa
Jakarta menjadi sebuah kengerian
yang perlahan mengusik kepala
Siapakah yang sanggup menggugat
Siapakah yang berhak menuntut
atas keadaan yang kini bergantungan di atas tali jemuran seorang bandit
Terus terang,
Aku lebih menikmati jemuran pakaian dalam seorang pelacur
yang semalam baru saja menyeduh cinta bersamaku
Aku lebih menyukai harum sabun di atasnya
yang seakan telah menyeka habis sisa dosa yang kami reguk dengan penuh semangat
Ya,
Jakarta selalu membawa luka, duka
dan mungkin sedikit dosa......
Palmerah, 24 Januari 2005
yang perlahan memisau jiwa
Jakarta menjadi sebuah kengerian
yang perlahan mengusik kepala
Siapakah yang sanggup menggugat
Siapakah yang berhak menuntut
atas keadaan yang kini bergantungan di atas tali jemuran seorang bandit
Terus terang,
Aku lebih menikmati jemuran pakaian dalam seorang pelacur
yang semalam baru saja menyeduh cinta bersamaku
Aku lebih menyukai harum sabun di atasnya
yang seakan telah menyeka habis sisa dosa yang kami reguk dengan penuh semangat
Ya,
Jakarta selalu membawa luka, duka
dan mungkin sedikit dosa......
Palmerah, 24 Januari 2005
Monday, January 17, 2005
Catatan Sore
Sore kembali datang, seperti mengulang cerita yang mengembara sejak lama. Kembali kucatatkan peristiwa-peristiwa kecil yang tercecer sepanjang hari ini. Ya, peristiwa-peristiwa yang gagap, yang seakan sulit untuk menamai dirinya sendiri. Seakan tak ada perkenalan, perjumpaan atau bahkan persetubuhan di antara keduanya.
Benar, peristiwa dan dirinya seakan dua hal yang terpisahkan, saling memandang terheran, mencengkram keterasingan.
Sore ini kucatatkan kehilangan dan keterasingan yang selalu bergerak di sekitar kita
Palmerah, 17 Januari 2004
Benar, peristiwa dan dirinya seakan dua hal yang terpisahkan, saling memandang terheran, mencengkram keterasingan.
Sore ini kucatatkan kehilangan dan keterasingan yang selalu bergerak di sekitar kita
Palmerah, 17 Januari 2004
Sebelum Makan Malam
Maaf bila aku ganggu makan malammu
sebab aku harus antar segera
kata-kata yang selalu ragu
sebelum kau berbelok di jalan itu
30051999
sebab aku harus antar segera
kata-kata yang selalu ragu
sebelum kau berbelok di jalan itu
30051999
Siang Ini
Matahari malu-malu.
Kubelitkan pertanyaan di sudut-sudut sisa hujan semalam
Jakarta yang basah seakan bersiap meninggalkan kenangan
tentang dirinya di masa lalu
serta bergegas menuju kabut
Matahari masih saja malu-malu
Kutatap yang mungkin masih tersisa
di antara belantara Jakarta
meski hanya sebuah jejak yang memudar
Palmerah, 17 Januari 2005
Kubelitkan pertanyaan di sudut-sudut sisa hujan semalam
Jakarta yang basah seakan bersiap meninggalkan kenangan
tentang dirinya di masa lalu
serta bergegas menuju kabut
Matahari masih saja malu-malu
Kutatap yang mungkin masih tersisa
di antara belantara Jakarta
meski hanya sebuah jejak yang memudar
Palmerah, 17 Januari 2005







