Tuesday, May 30, 2006

Sajak Hening

untuk Yukie Kusumawati

Aku selalu merindukanmu
pun ketika kau tak ada
ketika aku menyelesaikan tulisanku di ujung hari yang sangat hening

Kb Jeruk, 30 Mei 2006

Wednesday, May 24, 2006

Sisa Percakapan Semalam

Air mata yang mengalir lewat jaringan kata
membasahi pelataran hati
teringat perempuan yang mengatupkan mata
ketika bibir kami saling bertemu

Air mata yang menetes lewat jaringan kata
membasahi kenangan lama
teringat perempuan yang matanya terpejam
ketika bibirnya mencari-cari bibirku

Kb Jeruk, 24 Mei 2006
(sisa percakapan dengan A di B)

Tuesday, May 23, 2006

Catatan Sabtu Lalu




Sabtu lalu (20/5) saya sengaja menghabiskan waktu sendirian dengan menyambangi sebuah "pangkalan" buku di pojokan Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Entah kenapa, tempat itu selalu berhasil menyeret saya datang kembali. Mungin karena di sana saya banyak mendapati buku-buku sastra yang menarik.

Akhirnya, setelah mengobrak-abrik rak-rak buku yang penuh dengan debu, saya menemukan sejumlah buku menarik. Salah satunya buku karangan Ernest Hemingway Pertempuran Penghabisan atawa A Farewell to Arms. Meski di sana-sini terdapat kotoran--maklum, buku ini dicetak tahun 1975-- tapi secara keseluruhan buku ini masih dalam kondisi baik.

Sepanjang ingatan saya, buku ini merupakan salah satu karya Ernest Hemingway yang banyak diperbincangkan, tentu saja selain The Oldman and The Sea, The Sun Also Rises dan sejumlah buku lainnya.

Terus terang, saya belum membaca buku ini sebelumnya. Pasalnya, saya belum menemukan terjemahan buku ini sebelumnya.

Thursday, May 18, 2006

Jalan Panjang 8A

Pagi,

buku
maya
sereal
mujair
sajak
sandal
sepatu
kain pel
lirikan matamu

dan
lima belas menit onani jiwa


Kb Jeruk, 18 Mei 2006

Tuesday, May 16, 2006

Malam yang Tak Panjang











Malam yang tak panjang
Menanti tekukur yang mendengkur
Hanya sekadar ranting malamkah yang ingin kurayu itu
Atau kuncup-kuncup kembang yang ingin segera kupetik

Malam yang tak panjang
Mananti tekukur yang mendengkur
Hanya sekadar jendela subuhkah yang ingin kubuka itu
Atau riak-riak gelombang yang ingin menyeretku ke laut dalam

Kb Jeruk, 16 Mei 2006

Wednesday, May 10, 2006


Toh saya sepakat dengan Rene Girard, agama kental dengan kekerasan. Tak usah terlalu jauh melakukan penelitian yang super njlimet seperti yang dia lakukan, toh sejumlah terminologi dalam agama sangat jelas-jelas berbau kekerasan. Sebut saja termonologi "laskar" (seperti dalam Laskar Jihad atau pun Laskar Kristus) yang militeristik itu. Terminologi tersebut keras beraroma pedang, darah dan kematian bukan? Agama meneguk aroma kekerasan. Ini juga tampak dari ritual pengorbanan, entah itu manusia, entah itu hewan. Semua itu terbungkus dalam kesan kesucian, yang dengan demikian kekerasan menjadi seakan tampak sakral...  Posted by Picasa

Semalam (9/5) saya sengaja menyaksikan Kethoprak Tjap Tjonthong dari Yogyakarta. Lakon yang dimainkan adalah Putri Cina. Dalam lakon tersebut diungkapkan bagaimana etnis Cina telah menjadi "kambing hitam" dalam pada peristiwa Mei tahun 1998 silam di Jakarta. Memang, lakon ketoprak ini dipentaskan dalam rangka "Sewindu Reformasi". Sebelum menyaksikan lakon di atas, saya menyempatkan diri membeli dua buah buku karangan Sindhunata yaitu Babad Putri Cina dan Kambing HItam; Teori Rene Girard. Sepertinya buku ini layak dibaca. Posted by Picasa

Monday, May 08, 2006

Ecce Homo!!


Sukarlah bagi manusia untuk mengerti dirinya sendiri. Memang manusia merupakan semacam rahasia bagi dirinya sendiri (Driyarkara SJ).
Bahkan Nietsche pernah mengatakan, manusia itu belum selesai, ia harus menyelesaikan kemanusiaannya sendiri.
(Catatan untuk kawan yang
dengannya, dua malam lalu, kami bicara soal manusia)

Inikah Medan, Bung?

Mesjid Raya Al Mansun pada Malam Hari

Mesjid Al Mansun pada siang hari


Malam tanggal 5 April 2005 begitu mendarat di bandara Polonia, Medan, saya segera menelepon seorang sepupu. Dengan senang hati, malam itu juga, ia mengantarkan saya ke beberapa sudut kota Medan.

Untuk keperluan pembuatan tulisan, malam itu juga saya mengunjungi Mesjid Raya Al Mansun yang mulai digunakan pada tahun 1909. S ayang, malam itu mesjid sudah ditutup dan saya hanya bisa "berkeliaran" di pelataran mesjid. Menurut salah satu pedagang yang biasa mangkal di sekitar mesjid, mesjid memang tutup sekitar pukul 7 malam. Jadi, baru keesokan harinya saya bisa masuk ke dalam mesjid dan melihat arsitektur di dalamnya.

Penjual buku
Ketika saya melakukan pemotretan di dalam mesjid, ada seseorang yang ramah yang mengajak saya berkelilin. Bahkan ia seperti rela mau menunjukkan tempat-tempat dimana saya bisa melakukan pemotretan. Terus terang saya curiga juga dengan kebaikannya. Saya yakin, "ada sesuatu" di akhir pemotretan nanti. Benar saja, di akhir acara ia menawarkan saya sebuah buku yang berisi sejarah kota Medan. Ah untung saja ia menawarkan sebuah buku. Jika ia menawarkan benda lain pasti saya tidak akan membelinya.

Akhirnya, setelah melewati tawar-menawar, buku itu berpindah ke dalam tas saya. Buku itu tipis saja, covernya terkesan dirancang sangat asal-asalan, dan kualitas cetakannya rendah. Ah inilah Medan!


Catatatn:
Mesjid RAya ini memang butuh renovasi dan perhatian pemerintah atau pihak swasta setempat!

Friday, May 05, 2006

Kawan Saya 1




Ini kawan saya. Namanya Bayu. Setiap pagi kami bertemu. Sambil menikmati sarapan (yang terkadang imajiner), kami kerap memperbincangkan berbaghai persoalan, mulai dari soal kebudayaan, humaniora, sastra, filsafat, agama hingga wanita... Dia pandai bermain musik. Kalau tertawa, nyaris tak bersuara.... Model rambut kegemarannya...GUNDUL.

O ya, dia suami dari seorang istri, dan ayah dari seorang anak.......... (Yu, anakmu boleh kujadikan anakku?)

Moto: "Hidup adalah menunda kekalahan"