Monday, April 07, 2008

Sungai Cahaya



Sungai cahaya
Telah menggoda perempuan itu
Untuk menyeberang dengan sebentuk rakit
Seperti mencari-cari negerinya
Yang telah ia tinggalkan jutaan tahun lalu

Sungai cahaya
Telah merayu perempuan itu
Untuk mendekati setiap malam
Dan melihat-lihat jika
Dirinya ada di situ

Sungai cahaya
Telah merayu perempuan itu
Untuk duduk di tepian
Sambil menuliskasn syair
Tentang bulan yang selalu jatuh cinta kepadanya

Sungai cahaya
Telah mengundang perempuan itu
Untuk berdiri di dermaga sungai
Sambil menantikan perahu-perahu
Yang mengucapkan selamat tinggal
Untuk prgi slama-lamanya

Sungai cahaya
Telah meminta perempuan itu
Untuk memasukkan salah satu kakinya
Ke dalam sungai
Sambil melantunkan lagu paling luka

Sungai Cahaya
Telah telah menggoda perempuan itu
Untuk masuk ke dalam dirinya
Dan menghilang selama-selamanya
Kini sungai cahaya dan perempuan itu
Telah menjadi legenda

Berjuta tahun kemudian
Seorang anak perempuan
Telah tergoda menuju sungai cahaya itu
untuk mencelupkan jemarinya
Jika saja ia dapat menyentuh cahaya di sungai itu

Jakarta, 7 April 2007

Friday, April 04, 2008

Malam Penuh Teror



Kata-kata menyerang tak lagi lewat sajak, tetapi busur-busur panah beracun yang beersarang di degub jantung hingga menghentikan nafas dan kematian membayang, ah jika saja musim panas ini disobek awan hujan, kata-kata menyerang seperti hentikan langkah Hampir-hampir hapuskan jejak dan mata penuh amarah campakkan nurani dan jaringan kabel tak lagi janjikan kata tetapi kumpulan luka hitam serta hati tercelup cairan besi dikirimkan kengerian setiap hari Kata-kata menyerang teror menerjang ingin mematahkan kerumunan ini aku harus berlari hindari kehidupan ini aku harus berlari dan tinggalkan kefanaan ini

Jakarta, Maret 2008-04-04